Kisah Mengerikan Tim Pojoksatu.id Saat Memasuki Wilayah Petobo

Warga mengabadikankondisi Petobo yang raib ditelan bumi akibat gempa-tsunami dan likuifaksi./Foto: Pojoksatu

Warga mengabadikankondisi Petobo yang raib ditelan bumi akibat gempa-tsunami dan likuifaksi./Foto: Pojoksatu

POJOKJABAR.com, PALU – Gempa yang disertai dengan tsunami di Selawesi Tengah memang menjadi perhatian serius masyarakat dunia. Banyak sekali dari berbagai instansi mengirimkan bantuan.

Baik itu makanan, obat-obatan, keperluan hidup masyarakat bahkan hingga tim.

Pojoksatu.id sebagai salah satu media ternama juga ikut mengirimkan tim demi membantu para warga yang terkena dampak bencana alam tersebut.

Namun dibalik proses membantu para masyarakat yang terkena bencana alam, ternyata terdapat kisah mengerikan yang didapat oleh tim PojokSatu.id ketika memasuki wilayah Petobo.

Ketika Pojoksatu.id mencoba memasuki wilayah Petobo, Jumat (12/8/2018) malam lalu, suasana memang terasa cukup mencekam.

Gelap gulita dan sunyi senyap, sesekali keheningan terpecah oleh suara anjing yang menggonggong.

Sebuah mobil dengan kondisi ringsek akibat gempa dan likuifaksi, menjadi saksi bisu di jalan masuk Petobo.

Kata warga setempat bernama Chalik, di dalam mobil itu sering terlihat penampakan perempuan berambut panjang dan berjubah putih.

“Katanya begitu, tapi saya belum pernah melihat. Warga lain yang bilang,” katanya.

PojokSatu.id mencoba masuk ke dalam area yang sama sekali tak memiliki penerangan itu.

Berbekal senter yang cukup besar sebagai penerangan, PojokSatu.id menelusuri jalanan yang sudah tak berbentuk itu bersama Chalik.

Kanan-kiri, bangunan rumah porak-poranda. Tak ada suara. Bahkan serangga malam sekalipun. Gelap, sunyi-senyap. Benar-benar gelap dan sunyi.

Lampu penerangan lain hanya didapat dari lampu mobil yang kebetulan melintas. Itupun samar.

Aura mistis sudah cukup terasa saat memasuki permukiman yang kini sudah rata dengan tanah itu. Lampu senter memang bisa menembus gelapnya malam cukup jauh. Sampai ke kawasan yang terdampak likuifaksi atau tanah gerak.

Tak ada apapun. Hanya tanah lumpur yang bercampur dengan reruntuhan bangunan yang bisa ditangkap lampu senter.

Sekitar 20 meter mendekati kawasan lukuifaksi, bulu kuduk mendadak berdiri. Aura-nya semakin kuat.

Sampai bangunan rumah terakhir paling ujung dan menjadi pemisah dengan kawasan likuifaksi, kaki seperti sudah teramat berat melangkah.

Ditambah, bulu kuduk berdiri tiada henti dan merinding di sekujur tubuh. Sampai di batas itu, Chalik mengajak PojokSatu.id, kembali dan tak meneruskan perjalanan itu.

“Lebih baik kita kembali saja,” ajaknya.

“Ada ribuan jasad di sini. Biarkan mereka tenang, biarpun tidak dikuburkan dengan layak,” tutupnya.

(fat/pojoksatu/ayu)h5>

loading...

Feeds