PKS Perkenalkan Potensi Generasi Ini Warnai Politik Baru, ‘Bongkar’ Langsung Taktik Gaet Calon Pemilih

Ilustrasi PKS.

Ilustrasi PKS.

POJOKJABAR.com, BANDUNG- Perkembangan media sosial di Indonesia sudah tidak dipungkiri lagi kemajuannya, dari mulai twitter, facebook, instagram dan lainnya.

Bahkan menurut data yang ada, hampir 50 persen penduduk Indonesia sudah aktif di dalam pemanfaatan internet dan 70 persen nya sudah memiliki akun media sosial.

Kini seiring perkembangan zaman di era teknologi informasi yang demikian cepat, media sosial bukan lagi sekedar media untuk memudahkan komunikasi melainkan menjadi salah satu cara untuk menggaet calon pemilih oleh para elit partai politik.

Tidak dipungkiri, hampir semua pengguna media sosial di Indonesia merupakan generasi muda atau millenial dari usia 17-37 tahun yang masuk dalam kategori pemilih pemula. Melihat peluang yang besar tersebut, Anggota DPRD Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi akan memaksimalkan meraih suara mereka di Pemilu 2019 untuk di Legislatif maupun Presiden.

“Intinya bagaimana PKS menggunakan media sosial menyasar generasi millenial untuk menjadi basis pemenangan pemilu,” tandas Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Bekasi, Choiruman J Putro kepada RMOLJabar (Pojksatu.id group), Selasa (25/9).

Sebagai bentuk keseriusan, 120 anggota DPRD Kota/Kabupaten se Jawa Barat, 13 Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dan 11 Anggota DPR RI dari Fraksi PKS dikumpulkan untuk mengikuti Bimbingan Teknis dalam strategi pemenangan pemilu 2019 berbasis media sosial dan monografi penduduk desa/kelurahan di Hotel Harper, Purwakarta 24-26 september 2018.

“Saat ini kita akan kejar tren pengguna medsos, dalam kaitan pemanfaatan media youtube. Lalu website PKS, sedangkan follower pengunjung twitter PKS nomor dua. Di susul instragram nomor tiga serta fanpage facebook PKS nomor empat,” ungkap Choiruman.

Alasan lain PKS memaksimalkan kampanye melalui media sosial, jelas Choiruman, berkaca pada tahun 2014 di Pilpres bahkan ketika Jokowi di Pilgub DKI Jakarta. Pasalnya, ada perubahan perilaku pemilih di media sosial menjadi tren yang tidak dipungkiri semkin besar dan akan mempengaruhi priverensi politik pemilih di 2019.

“Khususnya dilihat dari pemilih muda usia 17-37 tahun itu bisa mencapai angka 42 persen. Mereka sangat potensial, sementara dalam mengatualisasikan politiknya mereka independen. Tidak suka dengan politik, tapi dipastikan mereka akan memilih,” katanya.

Generasi millenial yang aktif di medsos, menurutnya, memiliki sikap politik dan ini menarik bagi parpol kedepan khususnya menghadapi pileg serta pilpres akan tertentang memberikan argumentasi yang rasional.

“Karena mereka pemilih rasional, terlepas dari informasi hoax mereka bergaul dikomunitas mencari informasi dan menyikapi banyak sekali fenomena dari mulai politik hingga ekonomi. Mereka masuk dalam kelas menengah yang secara politik akan mempengaruhi pemilih dibawah yang tidak terpapar akses informasi,” tutur Choiruman.

PKS, lanjut Choiruman, memandang media sosial menjadi instrumen politik yang sangat potensial meningkatkan kualitas politik di Indonesia. Karena pengguna medsos anti politik uang, PKS akan mengangkat isu ini yang snagat cocok dengan millenial tidka mau dibeli dna menggadaikan kebebasannya dalam memilih.

“Mereka sangat berpotensi mewarnai politik baru, karena menolak politik buatan tradisional yang sangat kental dengan politik uang,” pungkasnya.

(***/rmol/pojokjabar)

loading...

Feeds