Ngeri! Fakta Penting Nomor 4 dan 7 dari 9 Fakta Kasus Pemerasan Bermodus Foto dan Video Korban tanpa Busana

phobe sex (Ilustrasi)./Foto: Istimewa

POJOKJABAR.com, BANDUNG– Pelaku kejahatan umumnya dan sewajarnya tidak berbuat tindak kejahatan lagi. Tapi rupanya para napi di Lapas Jelekong ini malah bisa menepis hal sebaliknya. Justru di dalam lapas ada kongkalingkong untuk berbuat kriminal. Tidak tanggung-tanggung, jumlah korbannya banyak dan omset yang didapat besar sekali.


Berikut ini sejumlah fakta yang berhasil dihimpun Pojokjabar.com:

1. napi lakukan pemerasan,hasil komunikasi sebagai alat memeras korban

Sejumlah narapidana Lapas Jelekong Bandung melakukan pemerasan di balik jeruji besi terhadap sejumlah perempuan. Para perempuan itu semula diajak berkomunikasi dengan cara chat, phone, dan video call sex. Semua hasil komunikasi itu direkam dan dijadikan alat untuk memeras.


Baca juga: Begini Trik Napi Lapas Jelekong Berkomunikasi dengan Para Perempuan Hingga Lakukan Video Call Sex

Tindakan para napi itu diketahui Kanwil Kemenkumham Jawa Barat dan akhirnya para pelaku diberi tindakan tegas. Kakanwil Kemenkum HAM Jabar Indro Purwoko mengatakan, pihaknya akan membentuk tim untuk menginvestigasi kasus tersebut. “Kita membentuk tim investigasi yang terdiri atas Inspektorat Kemenkum HAM dan Kanwil Kemenkum HAM,” jelas Indro di Mapolrestabes Bandung

Kasus yang diungkap jajaran Polrestabes Bandung itu bermula dari bebasnya para napi memanfaatkan telepon genggam di dalam lapas. Para napi itu lantas berkomunikasi dengan para korban secara intens via medsos. “Caranya dengan chat sex, phone sex, bahkan video call sex,” ujar dia.

Setelah itu, pelaku mengabadikan aksinya itu dengan merekam menggunakan ponsel. Hasil rekaman tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memeras para korban. “Pelaku dari dalam penjara minta sejumlah uang agar video tak tersebar,” kata dia.

2. korban ada 89 perempuan, dan para napi diberikan sistem gaji per minggu

Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo mengatakan, dari Lapas Jelekong, tiga pria berstatus narapidana diamankan. Dia menyebutkan, tercatat 89 perempuan menjadi korban pemerasan sindikat itu. Sejauh ini, motif pelaku masih di seputar kebutuhan ekonomi.

“Napi-napi ini hanya perlu uang untuk kebutuhan mereka selama di lapas,” terang Hendro. Pemerasan sudah berlangsung dua tahun dan mengumpulkan lebih dari ratusan juta rupiah.

Seorang pelaku berinisial T, 28, menyebutkan bahwa sebetulnya para petugas lapas mengetahui aksi pemerasan itu. Kata dia, pelaku biasanya minta korban mentransfer sejumlah uang dengan menggunakan rekening milik orang lain. Selanjutnya, uang tersebut ditarik tunai dan diserahkan kepada pelaku di dalam lapas.

Setelah itu, uang hasil pemerasan dikumpulkan dan kemudian diberikan kepada pekerja napi dengan sistem gaji per minggu. Uang tersebut juga diberikan kepada petugas lapas agar para narapidana selalu diberi kemudahan akses.

4. diduga masih ada korban lain

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo mengatakan bahwa pelaku berhasil diringkus  di Jalan Asia Afrika kota Bandung.

“Selain terdata 89 perempuan di HP tersangka, kami menduga masih ada sekitar 300 korban lain, baik di Indonesia maupun luar negeri,” tuturnya kepada Pojokjabar.com, Kamis (12/4/2018).

Hendro juga mengungkapkan diduga pelaku masih banyak di dalam Lapas Jelekong, maupun tempat tempat yang lain.

Baca juga: Tragis! Diduga Masih Ada Ratusan Korban Lain, Foto dan Video 89 Cewek tanpa Busana Jadi Bahan Ancaman Tiga Pria Ini

“Kami berhasil menyita 5  ATM, 6 unit HP, dan uang tunai sebesar Rp 40 juta,” terangnya.

5. pelaku menggunakan identitas palsu

“Jadi mereka memilih secara acak para korban di media sosial dengan menggunakan identitas dan foto palsu. Lalu berkenalan dengan korban, dan mendekatinya melalui chatting, telepon, maupun video call hingga korban telanjang tanpa busana,” beber ungkapkan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo kepada awak media, Kamis (12/4/2018).

Kemudian, lanjut Hendro, pelaku mengaku bekerja sebagai staff pelayaran, dan berjanji akan menemui serta menikahi korban setelah selesai melaksanakan tugas atau dapat izin cuti dari pimpinannya. Pelaku pun meminta uang agar dapat diberikan izin cuti.

Baca juga: Tiga Pria Ini Bisa Dekati Cewek Hingga Minta Korban Telanjang, Trik Awalnya dari Media Sosial

“Korban ada yang mengaku sulit untuk mentransfer uang kepada pelaku. Pelaku langsung mengancam akan menyebarkan foto dan video tanpa busana korban ke media sosial. Hal ini menjadikan para korban merasa takut, dan akhirnya mentransfer sejumlah uang kepada pelaku,” tambahnya.

Hendro mengindikasi masih banyak pelaku yang lain selain ketiga pelaku yang sudah terjaring polisi.

6. Uang hasil perasan disimpan di rekening almarhum, rata-rata setiap napi Rp 30 juta tiap pekan

Uang hasil perasan mereka simpan di rekening dengan identitas palsu. Salah satu rekening dibuat dengan identitas orang yang sudah meninggal alias almarhum.

Setiap napi yang dipekerjakan menjadi penipu ini mampu mendapatkan uang rata-rata Rp 30 juta tiap pekan. Dengan asumsi awal Polrestabes Bandung ada hampir seribu napi yang menjadi pekerja mencumbu rayu via online, maka bisa jadi uang yang dikeruk napi-napi ini mencapai miliaran.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Bandung Ipda Dhenia Istika Dewi menuturkan, dari sekitar 1.290 napi, sekitar 80 persennya diduga melakukan penipuan modus video tanpa busana. ”Kami sedang melakukan penelusuran aset,” terangnya.

Baca juga: Blak-blakan Pengakuan Napi Modus Video Panas, Kapolres Jamin Video tanpa Busana Korban Tidak Menyebar

Untuk awalan, yang diketahui saat ini ada beberapa orang yang berperan untuk mengambil uang di bank. Orang tersebut bukan napi, melainkan kenalan dari salah seorang kepala blok di Lapas Jelekong, Kabupaten Bandung. ”Ya, dilihat apa ada uang hasil kejahatan jadi aset tertentu,” tuturnya kemarin.

Saksi sekaligus napi yang juga melakukan penipuan berinisial GL mengakui bahwa uang hasil kejahatan itu masuk ke rekening yang sudah disiapkan oleh kepala kamar setiap sel. Kepala kamar ini biasanya mendapat nomor rekening dari kepala blok para napi.

”Setahu saya begitu, orang luar yang ambil uangnya tiap pekan. Kenalannya kepala blok mungkin,” ujarnya

7. komplotan pemerasan ini dikendalikan Lapas Klas II Jelekong

 Salah satu komplotan pemerasan bermodus video bugil ternyata dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II Jelekong, Bandung, Jawa Barat. Para penghuni penjara itu bahkan seperti telah merubah tempatnya hidup menjadi sebuah perushaan penipuan beromzet miliaran.

Kasus penipuan tiga narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II Jelekong, Bandung bermodus asmara untuk video bugil membuka tabir bahwa lapas dikelola dengan profesional bak lembaga perusahaan untuk menipu dan mengeruk uang kejahatan.

Baca juga: Akun Deddy Darmawan dan Yogi Fernandes Jadi Pancingan Napi Lapas Jelekong Dapatkan Video dan Foto tanpa Busana

Tidak tanggung-tanggung, satu orang napi dalam satu bulan bisa mendapatkan Rp 25 juta dari penipuan terhadap para korban. Padahal, jumlah napi di Lapas Jelengkong ini mencapai sekitar 1.290 orang.

Diperkirakan, 1.000 napi di antaranya juga melakukan penipuan yang sama dengan tiga tersangka, yakni Iqbar Destevantio alias Mencos (25), Jamjam Nurjaman alias Ijam (30), dan Febri Andriana alias Ape (29).

8. Dari 20 komunitas yang diikuti, ada puluhan akun lelaki pancingan

Bagaimana caranya napi ini bisa meyakinkan para korban untuk membuat video bugil? Salah seorang napi yang ditemui Jawa Pos (Pojoksatu.id group) berinisial GL menceritakan bagaimana rayuan tingkat tingginya bisa membuat para perempuan klepek-klepek dan terjerembap dalam jeratan video tanpa busana.

“Saya baru beberapa bulan di Lapas Jelengkong, saya pindahan lapas lainnya,” ujarnya.

Saat awal pindah ke Jelengkong, dirinya dipaksa oleh kepala kamar Ijam untuk melakukan penipuan merayu para perempuan. Dirinya dibekali dua handphone oleh Ijam untuk menipu.

Baca juga: Ini Isi Chatting yang Jadin Senjata Maut Napi Lapas Jelekong Dapatkan Video Bugil: Bicara Soal Pernikahan

“Tapi, handphone ini hanya alat, saya diajarinya cara mengumpulkan data identitas untuk menipu. Ini yang paling penting, identitas, sistem kerja, dan perusahaan harus sinkron,”€ tutur lelaki berusia 25 tahun tersebut.

Jadi, sebenarnya para napi itu sudah memiliki bank data profil lelaki pancingan yang ganteng dan benar-benar bekerja yang sifatnya jauh. Seperti, tambang, pelayaran, dan sebagainya.

“Itu data asli bukan data rekaan. Tapi, saya enggak mau sama fotonya dan identitasnya, saya cari yang beda,” jelas GL sembari tersenyum.

Dia menuturkan, untuk mendapatkan data profil lelaki pancingan itu, kepala kamar mengajari agar masuk komunitas di internet. Ada sekitar 20 komunitas yang diikuti, di antaranya Pelaut Indonesia, komunitas maritim dan komunitas scammers.

“Dari komunitas ini, saya dapat puluhan akun lelaki pancingan, seperti akun Deddy Darmawan dan Yogi Fernandes, keduanya benar-benar kerja di pelayaran,”€ tuturnya.

9. Para napi dapat bagian Rp 800 ribu per minggu, yang terlihat perlente kepal blok dan kepala kamar

Namun, kendati hasil penipuannya besar, ternyata para napi ini hanya mendapat bagian Rp 800 ribu setiap minggu. Menurut napi lain sekaligus saksi berinisial A, penghasilan Rp 30 juta tiap napi itu sebagian besar dibagi antara kepala kamar, kepala blok, dan diduga juga diterima sipir.

“Kalau ditotal semuanya, seminggu bisa sampai Rp 1 miliar pendapatan menipu ini. Ya, saya hanya bisa menerima yang penting di kamar bisa tenang, tidak diganggu dan tidak dipukuli,”€ ujarnya.

Menurutnya, hal itu karena sipir yang berperan membawakan handphone agar masuk ke lapas. Semua handphone yang ada di penjara itu, sipir yang memasukkannya. “Tidak mungkin napi,” paparnya terlihat tenang.

Baca juga: Rekening Almarhum Jadi Andalan Napi Hasil Pemerasan dari Video Korban tanpa Sehelai Benang

Sebagai napi bawahan, dia mengaku sering dipukuli karena gagal mendapatkan uang penipuan. Terutama, awal-awal menjalankan aksi. “Saya seminggu pertama dan kedua tidak dapat uang sama sekali, lalu saya dipukuli sama kepala kamar,”€ paparnya.

Bahakan yang paling terlihat perlente di Lapas Jelengkong, menurutnya adalah kepala blok dan kepala kamar. Mereka paling banyak mendapatkan fasilitas tertentu dari sipir. “Ya, uangnya mereka yang bawa,”€ tuturnya.

(mar/pojokjabar)