5 Fakta Pelajar SMA Mucikari, Nomor 1 Wajib Guru Tahu, Nomor 4 Ahli IT Wajib Buka Mata

Bisnis prostitusi (ilustrasi)./Foto: Istimewa

Bisnis prostitusi (ilustrasi)./Foto: Istimewa

POJOKJABAR.com, BANDUNG– Dunia prostitusi memang selalu menarik bagi para pelaku dan pegiat dunia malam. Prospek perjalanan dunia hitam ini selalu ada hingga saat ini. Termasuk barubaru kasus prostitusi yang melibatkan anak sekolah tingkat SMA.

Berikut ini sejumlah fakta yang berhasil dihimpun Pojokjabar.com:

1. pelaku berstatus pelajar sebuah SMA

Pelajar sebuah SMA di Kabupaten Bandung Barat berinisial MR (16) menjadi tersangka tindak pidana penjualan orang.

MR kedapatan nyambil jadi mucikari lebih dari dua tahun dan menjual adik kelas sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK).

Berita terkait: Ya Allah! Pelajar SMA Mucikari, Adik Kelasnya Jadi PSK, Sekali Booking Duitnya Wow…

Modus yang dilakukan tersangka dengan menjual pekerja seks kepada hidung belang melalui media sosial. Gadis muda yang dijual beberapa di antaranya adik kelas SMA di tempatnya menuntut ilmu.

2. perdagangan di bawah umur

Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Niko N Adiputra mengungkapkan, penangkapan MR bermula dari laporan masyarakat mengenai adanya praktik perdagangan di bawah umur melalui media sosial.

Setelah ditelusuri, pelajar wanita salah satu SMA di Bandung Barat itu berhasil diamankan di kamar kontrakannya Kampung Sodong Desa Cipeundeuy Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat.

“Saat ditangkap, MR tengah menjual korban berinisial DK dan NR kepada pelanggan dengan harga Rp 1,5 juta,” terang Niko, Senin (5/3).

3.  kepergok sedang transaksi

Saat dilakukan penangkapan terhadap pelaku di Kampung Sodong, Desa Cipendeuy Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat belum lama ini, anggota Satreskrim Polres Cimahi dikagetkan karena MR kepergok saat sedang melakukan transaksi penjualan manusia. Satu orang dihargai Rp 1,5 juta.

Berita terkait: Pelajar SMA Mucikari Ini Melek Teknologi, Medsosnya Terbuka, Suka Nolak, Padahal…

“Saat itu ada dua korban yaitu DK dan NR, yang akan dijual kepada pelanggannya,” ujarnya.

Dari tangan tersangka, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya, uang senilai Rp1,5 juta, tiga buah ponsel dan dua unit sepeda motor yang digunakan untuk melakukan transaksi.

“Satu orang sudah diamankan dan tiga orang lagi masih dilakukan pemeriksaan,” ucapnya.

Menurutnya, kasus tersebut akan terus dikembangkan, sebab, khawatir muncul korban – korban lainnya.

“Untuk mengungkap praktik perdagangan anak dibawah umur ini, kita lihat dari hasil pemeriksaan,” terangnya.

4. melek teknologi

Aksi pelaku ini tergolong lihai, sebab MR melek akan teknologi. Kata Niko, MR beraksi melalui jejaring sosial dan sudah mempunyai langganan.

Sehingga, jika korbannya masuk perangkap, dia (pelaku) tidak kesulitan untuk menawarkan jasanya kepada pelanggan.

Meskipun media sosialnya itu terbuka namun, tidak bisa siapa saja yang masuk mendapatkan tanggapan darinya. Pelaku memanfaatkan aplikasi wechat untuk berkomunikasi maupun saat bertransksi.

“Dia peka terhadap obrolan yang masuk. MR waspada dan tak jarang menolak permintaan orang baru,” pungkasnya.

Dari aksinya tersebut, MR diketahui sudah berhasil menjual sebanyak lima korban. Untuk DK dan NR sudah diperiksa, sementara 3 korban lainnya masih dalam pencarian.‎

5. pelanggan hidung belang berbagai kalangan

Niko menjelaskan, MR memiliki langganan hidung belang dari berbagai kalangan. Tak tanggung, wanita pekerja seks yang ditawarkannya adik kelas yang baru berusia 15 tahun.

Ada dua korban kami amankan. Dan tiga korban lainnya masih kami kejar untuk dimintai keterangan,” katanya.

Niko menambahkan, antara tersangka dan korban sebelumnya sudah bersepakat untuk menjalankan bisnis haram ini. Dalam satu booking, tersangka mendapat bagian Rp 500 ribu atau lebih tergantung kelihaian tersangka bertransaksi dengan hidung belang.

“Tugas MR memasarkan korban, setiap melayani korban diberi uang Rp 500 ribu,” jelasnya seperti dilansir Rmol.co.
Atas perbuatannya ini, tersangka MR akan dijerat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 Pasal 2 tentang Tindak Pidana Penjualan Orang (TPPO) dengan ancaman maksimal 15 tahun hukuman penjara.

(mar/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds