Menjelang Pilgub Jabar 2018, Rentan Terjadi ‘Perang Agama’ di Medsos

Ilustrasi hoax

Ilustrasi hoax


 POJOKJABAR.com, BANDUNG – Isu keagamaan yang disebar melalui media sosial (medsos) diprediksi bakal terjadi di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018. Seperti di Pilgub DKI Jakarta, isu seperti itu dinilai menjadi senjata ampuh untuk memenangkan sekaligus menumbangkan seorang kontestan dalam Pemilihan Kepala Daerah.

Hal tersebut kemukakan pegiat media sosial, Hendra Hendarin. Menurut dia, Pilgub DKI Jakarta yang diwarnai isu agama dimana berawal dari medsos disinyalir telah menjadi contoh atau acuan untuk ditiru termasuk Pilgub Jabar.

“Kemungkinan besar pasti terjadi terlapas cara dan metodenya seperti apa,” ucap Hendra saat ditemui usai acara diskusi publik bertajuk ancaman intoleransi terhadap ketahanan bangsa : peran pemerintah, akademisi, mahasiswa dan pers dalam merawat kebhinekaan di Auditorium IFI Bandung, Jalan Purnawarman, Kota Bandung, Selasa (25/4/2017).

Hendra melanjutkan, sejatinya medsos bisa diakses dengan mudah tanpa batas. Hal itu pula membuka kesempatan bagi segelintir pihak tertentu yang profesional dan sistematis untuk memanfaatkan sebagai sarana menjelang Pilkada.

“Isu di medsos masih menjadi senjata,” tegasnya.

Hendra pun mengkhawatirkan, jika isu agama diterapkan di Jabar imbasnya bakal melebar ke setiap daerah yang menggelar Pilkada.

“Pilpres dulu kan demikian. Banyak isu-isu hoax berkonten sara,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Dosen Antropologi Fisip Unpad, Selly Riawanti berpendapat, jika melihat kebiasaan warga Jabar, pemujaan atau mengagungkan satu tokoh (pemimpin) sampai berlebihan dan menghalalkan segala cara belum pernah terjadi.

“Jabar itu bukan hanya orang Sunda saja, banyak. Terlepas ada isu sara atau dukung mendukung satu orang itu sifatnya subjektif,” terangnya.

Kata Selly, perkembangan pengguna medsos terutama dikalangan remaja trennya baru terjadi dua-tiga tahun terakhir. Sebagai seorang akademisi, ia menyarankan strategi memerangi berita-berita hoax termasuk isu sara dengan cara konformasi kepada yang bersangkutan.

“Alternatifnya perbanyak, bisa membaca, perdalam pengetahuan dan tidak mudah terprovokasi,” pungkasnya.

(arh)

 

Loading...

loading...

Feeds