BPJS Kesehatan Goes To School Datangi Sekolah SMP di Kota Cimahi

Kepala satuan pengawas internal BPJS Kesehatan Pusat, Herjanto, yang merupakan alumnus SMPN 7 Cimahi, memberikan motivasi kepada siswa, saat berlangsung BPJS Goes To School, di SMPN 7 Cimahi, Jalan Cibeureum, Kota Cimahi, Kamis (21/7/2016).

Kepala satuan pengawas internal BPJS Kesehatan Pusat, Herjanto, yang merupakan alumnus SMPN 7 Cimahi, memberikan motivasi kepada siswa, saat berlangsung BPJS Goes To School, di SMPN 7 Cimahi, Jalan Cibeureum, Kota Cimahi, Kamis (21/7/2016).


POJOKJABAR.com, CIMAHI – BPJS Kesehatan Kota Cimahi memberikan sejumlah peralatan olahraga dan alat kesehatan ke SMPN 7 Kota Cimahi, Jl. Cibeureum, Kota Cimahi, Kamis (21/7/2016). Kegiatan dengan tema “BPJS Kesehatan Goes To School” itu bertujuan untuk mengoptimalkan potensi bonus demografi melalui sektor kesehatan.

Dalam acara yang dihadiri ratusan murid tersebut, BPJS Kesehatan mengedukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan. Ditemui usai acara, Kepala satuan Pengawas Internal BPJS Kesehatan Kota Cimahi, Herjanto mengungkapkan, berdasarkan proyeksi 2010-2035, bonus demografi (usia angkatan kerja) di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2012.

Meningkatnya bonus demografi di Indonesia harus diiringi peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan agar dapat terserap dalam pasar kerja yang kompeten.

Ia mengatakan tahun 2015, 29,67% atau Rp. 16,9 triliun dana jaminan kesehatan terserap untuk membiayai penyakit katastropik seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke. “Penyakit katastropik cenderung terjadi karena faktor pola hidup yang tidak sehat. Kalau dibiarkan dan tidak diedukasi sejak dini, hal itu bisa membawa dampak tidak baik bagi kualitas kesehatan penduduk Indonesia,” ujarnya.

Acara BPJS Kesehatan Goes to School digelar serentak di seluruh Indonesia. Untuk regional Jawa Barat, acara serupa diadakan di Kabupaten Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya. “Acara ini juga digelar dalam rangka ulang tahun BPJS Kesehatan yang ke 43,” terangnya.

Dengan edukasi yang diberikan, ia berharap dapat meningkatkan rasa kepedulian membantu sesama dari generasi muda, terutama dalam hal pelaksanaan jaminan kesehatan di Indonesia.

“Mari kita bayangkan, kika satu orang peserta JKN-KIS melakukan operasi jantung dengan biaya Rp 160 juta-an dengan iuran rata-rata Rp 51.000, maka diperlukan sebanyak 3.737 orang peserta JKN-KIS yang sehat dan membayar iuran,” terangnya.

Untuk itu peran generasi muda dalam mengawal keberlangsungna program JKN-KIS di Indonesia sangat besar.

“Kami harap, dengan kepedulian yang tinggi dan jiwa gotong royong yang tertanam dari para pelajar yang merupakan generasi muda, bisa mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia yang lebih sehat,” pungkasnya. (bbb)

Loading...

loading...

Feeds