Jalur Kereta Api Rancaekek-Tanjungsari Akan Diaktifkan

Rombongan PT KAI menyusuri jembatan Cingcin Jatinangor bekas jembatan kereta api Rancaekek-Tanjungsari. Saat ini, di sepanjang jalur tersebut hampir hilang digantikan rumah penduduk dan jalan umum.

Rombongan PT KAI menyusuri jembatan Cingcin Jatinangor bekas jembatan kereta api Rancaekek-Tanjungsari. Saat ini, di sepanjang jalur tersebut hampir hilang digantikan rumah penduduk dan jalan umum.

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Jalur kereta api (KA) Rancaekek-Tanjungsari merupakan salah satu peninggalan masa penjajahan kolonial Belanda. Jalur tersebut sempat dibuka selama beberapa tahun sebelum kemerdekaan.

Namun, dalam masa penjajahan Jepang, jalur kereta api tersebut ditutup. Seiring dengan berjalannya waktu, jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari yang mempunyai panjang sekitar 14 kilometer tersebut nyaris hilang.
“Jalur kereta api Rancaekek-tanjungsari, mulai dibangun pada 1916 dan dibuka pada 1921,”tutur Kepala Bagian Humas PT KAI, Agus Komarudin ketika diwawancara saat napak tilas jalur kereta Api Rancaekek-Tanjungsari, Selasa (29/3).

Setelah dibuka, jalur tersebut sempat beroperasi pada 1921. Pemerintah kolonial Belanda memfungsikan jalur tersebut untuk mengangkut hasil bumi dari daerah Tanjungsari, baik berupa tembakau, tepung tapioka maupun teh.

Namum, pada 1942 ketika Jepang menjajah Indonesia, jalur tersebut ditutup karena dianggap tidak menguntungkan. Bahkan, sebagian besar struktur baik rel maupun jembatan dibongkar oleh Jepang untuk dijadikan bahan pembangunan rel kereta ke Bayah Banten yang mempunyai potensi batu bara.

Selama puluhan tahun, jalur masyarakat banyak yang membangun rumah di sepanjang jalur tersebut. Di beberapa tempat, jalur kereta telah beralih fungsi menjadi rumah penduduk atau jalan gang. “Jembatan Cingcin yang berada di Cikuda Jatinangor telah menjadi jalan umum masyarakat menambahkan cor dalam jembatan tersebut,”ucapnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan sebenarnya jalur kereta tersebut mempunyai lima perhentian atau halte, yang terletak di Bojongloa, Cikeruh, Cileles dan Tanjungsari. Dari lima halte, hampir semuanya sudah beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan atau kantor pihak tetentu.

Di Cikeruh misalkan, saat ini halte telah berubah menjadi kantor PGRI Kecamatan Jatinangor. “Di Tanjungsari, halte atau stasiun telah berubah menjadi gedug juang,”ungkapnya.

Pemerintah sendiri, berencana akan membangun jalur kereta api Bandung-Cirebon sebagai penunjang Bandara Internasional Majalengka. Menurut Agus, rencana tersebut dimungkinkan mengaktifkan kembali jalur Rancaekek-Tanjungsari. “Kita hanya sebagai operator saja, tergantung pemerintah saja. Bisa juga membangun jalur baru dan jalur ini dijadikan heritage,”katanya.

Begitu juga dengan pembangunan LRT sebagai bagian dari pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Menurut Agus, segala sesuatu terkait perencanaan merupakan kewenangan pemerintah bukan PT KAI.
“PT KAI hanya menjadi operator saja, pada prinsipnya kami mendukung program pemerintah, tapi bukan sebagai penentu kebijakan,”katanya. (mld)

 

loading...

Feeds