TPASS Sarimukti Bandung Barat Mampu Bertahan Hingga 2017

TPPAS Sarimukti menampung sampah Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat ini, dari sejak 2006 hingga saat ini ketinggian sampah rata-rata mencapai 40-50 meter dari dasar tanah.

 

POJOKJABAR.com, BANDUNG BARAT – Selain habisnya masa kontrak antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Perhutani pada 2018, serta terlalu tingginya tumpukan sampah juga menjadi alasan dipindahkannya Tempat Pembuangan Akhir Sampah Sementara (TPASS) Sarimukti di lahan milik PT Perhutani di Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat (KBB) ke Legok Nangka Nagreg Kabupaten Bandung pada 2018 mendatang.

Menurut Kordinator Badan Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Jawa Barat untuk TPASS Sarimukti, Iwan Syarifuddin, tingginya penumpukan sampah tersebut diakibatkan karena adanya peningkatan volume pembuangan sampah disetiap tahunnya yang mencapai 10-15 % sampah.

Iwan mengatakan, TPPAS Sarimukti yang menampung sampah dari tiga wilayah yakni, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat ini, dari sejak didirikan pada 2006 hingga saat ini ketinggian sampah rata-rata mencapai 40-50 meter dari dasar tanah.


“Dulunya ‘kan lembah TPASS Sarimukti ini, sekarang tinggi tumpukan sampah rata-rata mencapai 40 sampai 50 meter,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya di TPASS Sarimukti di Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat KBB, Selasa (16/2).

Berdasarkan data BPSR Jabar, sampah yang dibuang ke TPASS Sarimukti untuk setiap harinya mencapai 3000 meter kubik atau sekitar 1500 ton (dengan asumsi 1 meter kubik = 500 Kg). Dari jumlah itu, Kota Bandung menjadi daerah dengan kontribusi terbesar yang membuang sampah ke Sarimukti dengan jumlah sampahnya yang mencapai 2250 meter kubik/hari.

Sementara Kota Cimahi sebanyak 450 meterkubik/hari, KBB sebanyak 250 meter kubik/hari dan ditambah pihak swasta (perusahaan dari ketiga wilayah) sebanyak 160 meter kubik. “Kota Bandung menjadi penyumbang paling banyak sampah yang dibuang ke Sarimukti,” katanya.

Lanjut Iwan menuturkan, kepindahan TPASS Sarimukti ke TPA Legok Nangka di Kabupaten Bandung memang suatu keharusan karena lahan di TPASS Sarimukti sendiri secara teknis batas waktunya sampai 2017. Batas waktu tersebut dilakukan, karena pasca berakhirnya pengoperasian TPASS Sarimukti tentunya diperlukan pembenahan lahan seperti penanaman kembali (reboisasi) dan lainnya agar keadaan lingkungan menjadi seperti semula.

“Untuk pembenahan lahan sendiri butuh waktu satu tahun agar lahan seperti dalam kondisi semula sebelum dijadikan TPA,” tuturnya.

Dalam hal ini, lanjut iwan, pihaknya hanya menunggu kesiapan TPA di Legok Nangka untuk rencana kepindahannya tersebut. Kendati demikian, sambil menunggu kesiapan di TPA Legok Nangka, sementara ini pihaknya telah mengembangkan lahan seluas 2 hektar untuk menampung sampah sampai pertengahan 2018 jika di TPA Legok Nangka belum siap dipergunakan.

“Ada lahan juga yang dipersiapkan jika TPA Legok Nangka belum siap, Tapi keefektifan sendiri tergantung legok nangka kalau akhir tahun ini siap ya pindah,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (Pemkab KBB) melalui Dinas Cipta Karya sedang melakukan observasi untuk sejumlah tempat yang akan dijadikan tempat pengelolaan sampah lokal menyusul wacana akan dialihkannya Tempat Pembuangan akhir (TPA) sampah Sarimukti di lahan milik PT Perhutani di Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat KBB ke Legok Nangka Nagreg Kabupaten Bandung oleh Badan Pengelolaan Sampah Regional (BPRS) Provinsi Jawa Barat .

Bupati KBB Abubakar mengatakan, kebijakan pindahnya TPA Sarimukti ke TPA Legok Nangka merupakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah provinsi Jawa Barat dalam rangka melayani dan mengelola sampah di Bandung Raya (KBB, Cimahi, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung). (bie)