Pembangunan Flyover di Gedebage Bandung Didemo, Ridwan Kamil Turun Tangan

Walikota Bndung , Ridwan Kamil

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Rencana pembangunan flyover yang akan melewati perumahan Cluster Cemara RW 07 Komplek Adipura, Kecamatan Gedebage Bandung menuai penolakan warga setempat. Sebab itu, walikota Bandung Ridwan Kamil menyempatkan untuk menemui warga RW 07 Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gedebage.

Rencananya flyover ini akan dibangun dari pembukaan gerbang Tol 149 dan telah dilaksanakan ground breakingnya tahun lalu.

Menurut warga flyover yang rencana pembangunannya akan melewati Cluster Cemara Komplek Adipura tersebut, sangat mengganggu.

“Rencana pembangunan tahap 1,2,3 itu akan melewati Komplek Adipura, dan itu sangat mengganggu warga karena dikhawatirkan terjadi kecelakaan,” ujar salah seorang perwakilan warga, Agus Firmansyah.


Agus mengatakan, warga juga mengeluhkan banjir yang terjadi di lingkungannya. Meski memang di kawasan tersbut kerap terjadi banjir, namun sejak ada kegiatan pembangunan, banjir semakin parah.

“Developer katanya mau memperbaiki drainase tapi sampai sekarang belum teralisasi,” tandasnya.

Menurut Agus, warga berharap, akan ada rute lain untuk keluar masuk kompleks.

Menanggapi persoalan itu, Ridwan Kamil meminta warga untuk mengerti dan memahami konsep pembangunan Pemkot Bandung.

“Nantinya pusat pemerintahan Kota Bandung juga akan digeser ke Gedebage. Rencana itu sudah ada jauh-jauh hari,” ujar Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil menambahkan, rencana pembangunan di kawasan Gedebage bukan tanpa pemikiran. Terutama penyelesaian masalah banjir.

“Kita akan membangun danau, yang bisa menampung air saat hujan besar. Dan tidak akan kekurangan air saat kemarau,”papar Ridwan Kamil.

Bicara mengenai drainase, Ridwan Kamil mengaku, memang harus diperbaiki dahulu dan akan dibicarakan dengan WIKA serta Kemen PU. “Ini akan jadi prioritas sebelum menjalani hal lain,” tegas Ridwan Kamil.

Berkaitan dengan permintaan warga untuk menggeser jalan flyover itu akan dibicarakan langsung dengan Summarecon dan bila ada ketakutan akan kebisingan akan digunakan soundbarrier.

”Namun jika bicara masalah teknis, untuk jalan flyover memang pada teorinya harus maksimal miring 10 persen kemiringannya dengan permukaan rata, karena bila terlalu rendah akan lebih banyak rumah yang terbongkar. Sementara, untuk tidak terlalu tinggi menurut Kemen PU apabila diturunkan ke setengahnya yaitu 4,5 meter truk tidak bisa lewat dan akan memutar ke Summarecon,” papar Ridwan Kamil.

Halnya dengan akses warga akan diberikan tiga solusi yaitu rute lama dan salah satunya yang baru adalah melalui sebelah kecamatan dan ini sudah dibicarakan dengan Summarecon juga untuk rute satunya lagi. (mur)