Tower “Misterius” di Padalarang Bandung Barat Resahkan Warga Sekitar

Keberadaan tower Base Tower Transceiver (BTS) kembali membuat resah. Kali ini, warga di Kampung Kepu RT 01/13 Desa/Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang merasakan dampaknya.

POJOKJABAR.com, PADALARANG – Keberadaan tower Base Tower Transceiver (BTS) kembali membuat resah. Kali ini, warga di Kampung Kepu RT 01/13 Desa/Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang merasakan dampaknya.
Informasi yang dihimpun di lapangan, tower BTS yang diproyekikan setinggi 42 meter itu belum jelas siapa pemiliknya. Anehnya, pembangunan tower tersebut terus berjalan sejak November 2015 lalu.

Saat ini, tower tersebut sudah hampir rampung. Sementara warga setempat belum jelas kompensasi yang didapat. Bahkan, pemilik tanah yang luasnya sekityar 8 tumbak juga mengaku tidak tahu menahu.

Sejumlah pekerja proyek yang ada di lokasi tersebut mengaku hanya sebagai pekerja. Mereka hanya menjalankan tugas untuk mengerjakan pembangunan tanpa tahu lebih jauh mengenai perizinan dan segalamacamnya.

“Tidak tahu kang. Saya hanya membangun saja tugasnya. Pengusahanya di Bandung,” singkat salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya, Kamis (11/2).


Salah seorang warga setempat, Rudi ,34, mengungkapkan, proyek pembangunan tower tersebut tidak tahu etika. Tidak kesepakatan jelas dengan pemilik tanah dan tidak ada izin dari warga setempat. “Warga sudah demo berkali-kali, tapi tak dihiraukan. Aneh,” katanya, dengan nada heran.

Dikatakan, perusahaan yang belum diketahui namanya ini mendirikan menara tower berdiri di perbatasan pemukiman warga. Kondisi ini sangat meresahkan warga.

Sebelum tower ini berdiri, pernah ada itikad dari pihak pengusaha. Namun belakangan, warga merasa dibohongi karena kompensasi yang dijanjikan tak kunjung ada. Termasuk kepada pemilik tanah dan warga.

Ketika Tower terebut mulai di bangun, warga merasa kaget. Pasalnya, belum ada kesepakatan jelas. Saat warga demo, pengerjaan tower ini masih terus berjalan. “Kami benar-benar dibuat resah dengan keberadaan tower ini,” keluhnya lagi.

Aktivis Karang Taruna setempat, Hendri Nasir (30) mengungkapkan, warga berkali-kali melakukan penolakan namun sampai sekarang tidak digubris. Pihak pengusaha tak kunjung menampakan batang hidungnya kepada warga.

“Kami para warga sudah musyawarah. Ada tiga pernyataan warga yang harus dipenuhi jika tower ini mau beroperasi,” kata Hendri yang juga salah satu bagian dari pihak keluarga pemilik tanah tempat tower dibangun.

Tuntutan pertama, katanya, adalah pembayaran kompensasi yang jela dari pihak pengusaha. Pemberian kompensasi ini sudah menjadi kesepakatan sejak awal pembangunan.

“Kedua adalah pengurusan izin. Karena kami sudah telusuri ke desa, kecamatan dan Pemkab Bandung Barat, ternyata tower ini tidak memiliki izin sama sekali,” imbuhnya.

Terakhir, apabila pihak pengusaha tak kunjung datang menemui warga, maka warga dan aparat pemerintahan setempat sudah sepakat untuk melakukan demo lebih besar dan memaksa proyek tersebut dihentikan. “Pokoknya datang dulu temui warga. Tunaikan janjinya apabila ingin tower ini tetap berdiri,” pungkasnya. (bie)