Daging Sapi Mahal, Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Tak Berdaya

daging sapi
Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SOREANG – Pemerintah Kabupaten Bandung tidak bisa berbuat banyak terhadap harga daging sapi yang tidak menentu. Rencana pemberlakuan PPN 10 persen bagi pemotongan sapi di RPH dijadikan alasan kenaikan.

“Salah satu itu yang memicu naiknya harga daging sapi beberapa waktu lalu itu kan karena ada rencana pemberlakuan PPN sepuluh persen itu,” tutur Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung, Hermawan, Jumat (5/2).

Dengan beban PPN sepuluh persen, kata Hermawan akan mempenaruhi harga jual. Oleh sebab itu, banyak bandar yang menahan dulu sapinya untuk dipotong, karena pada waktu itu masih menunggu kepastian pemberlakuan PPN 10 persen.

“Memang sebelum dipending, pemotongan sapi di RPH menurun drastis. Dari biasanya ada pemotongan 30 ekor, menjadi hanya sembilan ekor saja perhari. Jadinya ketersediaan barang menjadi kurang dan menyebabkan harga naik,” paparnya.


Bahkan hingga saat ini juga, kata Hermawan walaupun sudah ada kepastian jika pemberlakukan PpN 10 persen untuk pemotongan sapi di RPH dipending, namun pemotongan masih belum normal. “Belum normal seluruhnya, tapi beranghsur normal lagi,”ucapnya.

Kendati demikian, harga daging sapi di pasaran, kata Hermawan masih belum kembali ke harga semula. Rata-rata, harga daging sapi di pasar tradisional saat ini masih diangka Rp110 ribu-Rp120 rinbu tiap kilogramnya.

“Yang namanya pedagan, jika harga sudah naik, turunnya susah, padahal naiknya cepat. Seperti pas BBM naik saja, tarif angkot langsung naik, tapi saat BBM turun, tartif angkot tidak ikut turun,”tutupnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa pekan terakhir harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan. Bahkan, tiap kilogramnya menembus angka Rp140 ribu.

Selain harga yang melambung tinggi, ketersediaan barang di pasar juga sangat jarang. Kondisi tersebut, diperparah dengan banyaknya pedagang daging yang mogok berjualan. (mld)