Karyawan Tetap Nyambi Ngamen Dirazia

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung menjaring pengamen dan anak jalanan. Diantara pengamen, Dinsos mengungkap adanya karyawan tetap yang menjadi pengamen jalanan sebagai pekerjaan sampingan.
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung menjaring pengamen dan anak jalanan. Diantara pengamen, Dinsos mengungkap adanya karyawan tetap yang menjadi pengamen jalanan sebagai pekerjaan sampingan.
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung menjaring pengamen dan anak jalanan. Diantara pengamen, Dinsos mengungkap adanya karyawan tetap yang menjadi pengamen jalanan sebagai pekerjaan sampingan.

POJOKJABAR.id, BANDUNG – Tidak semua pengamen dan anak jalanan atau pengangguran, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung menjangkau sekelompok pengamen jalanan dengan pekerjaan yang jelas.

“Jadi kami menjangkau pengamen jalanan di sekitaran JL. Malabar, mereka berempat mengamen bersama dan memiliki pekerjaan tetap,”ujar Sekretaris Dinsos Kota Bandung Medi Mahendra kepada wartawan, kemarin (29/8/2015).

Dari empat orang tersebut, dua diantaranya merupakan karyawan tetap, dua orang lainnya adalah pelajar. Ke empat orang pengamen jalanan itu bersama beberapa orang PMKS hasil jangkauan Dinsos dan beberapa instansi terkait lainnya, menginap di rumah singgah di kawasan Sukajadi.

“Setelah ini, para PMKS yang merupakan warga Kota Bandung akan dikembalikan ke keluarganya, jika berasal dari luar daerah, maka akan dikembalikan ke daerahnya melalui Dinsos masing-masing daerah,” paparnya.


Fenomena orang-orang yang punya penghasilan namun menjadi pengamen jalan, menurut Medi sangat memprihatinkan. Karena membuktikan bahwa hidup di jalanan punya daya tarik sendiri.

“Karenanya, saya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan donasi kepada anak-anak jalanan dan para pengamen jalanan. Jika mau berderma silahkan salurkan melalui yayasan sosial, agar lebih terorganisir dan tepat sasaran,” terang Medi.

Menurut Medi, kolaborasi antara penghasilan PMKS di jalan yang menurun, karena tidak ada yang berdonasi di jalanan, penjangkauan (razia,red) yang dilakukan instansi terkait, agar membuat para PMKS tidak betah dan tidak tenang ada di jalan.
Juga pelatihan dan rehabilitasi kepada para PMKS yang berhasil dijangkau, diharapkan bisa menjadi perpaduan yang pas untuk memberantas PMkS. “Karena jika semua harus diselesaikan Dinsos sendiri jelas tidak akan bisa diperlukan kerjasama dari seluruh stakeholder,” tambahnya.

Dalam kegiatan penjangkauan selama satu minggu, Dinsos Kota Bandung berhasil menjangkau tidak kurang dari 30 PMKS.
“Mayoritas mereka bukan warga Kota Bandung. Bahkan ada yang berasal dari luar Provinsi Jabar,” tegas Medi.

Dalam kesempatan ini, Medi mengucapkan terima kasih kepada relawan sosial yang bekerja keras menjangkau PMKS di Kota Bandung, meski hasilnya masih belum maksimal. “Bahkan ada beberapa orang dari relawan yang tidak pulang ke rumah sebelum pekerjaan mereka selesai,” pungkasnya.

Ditemui di rumah singgah Dinsos Kota Bandung, salah seorang dari empat orang pengamen, Jaka, 21, mengaku baru sehari turun ke jalan. “Kami hanya iseng-iseng. Tidak ada niat untuk selamanya menjadi pengamen jalanan,” ujar warga Jl Laswi ini.

Jaka sendiri adalah karyawan di salah satu pabrik dengan penghasilan Rp1,8 juta, di bagian quality control. “Ini bukan masalah gak cukup gaji, ya hanya ingin punya penghasilan tambahan,” katanya.

Hari Jaka dan ke tiga temannya terjangkau Dinsos, mereka baru turun ke jalan sekitar pukul 13.00. Belum lama mereka mengamen, sudah terjangkau, sehingga tidak sempat mendapatkan hasil maksimal. “Baru bisa beli kopi dan rokok,” tambahnya.

Meski belum berkeluarga, Jaka mengaku punya tanggungan berupa cicilan dua unit motor. Sehingga, penghasilannya selalu terasa kurang.

Namun, setelah kejadian ini, Jaka mengaku Kapok dan berjanji tidak akan mengamen lagi di jalanan. “Saya kapok dan janji gak akan turun ke jalan lagi. Saya menyesal,” katanya.

(RadarBandung/mur)