26 Desa Tergenang dan Enam Desa Akan Lenyap

KURNIAWAN ABDURAHMAN/RADAR SUMEDANG SIAP DIGENANGI : Pintu air Waduk Jatigede, Sumedang siap menggenangi areal Waduk Jatigede.
KURNIAWAN ABDURAHMAN/RADAR SUMEDANG SIAP DIGENANGI : Pintu air Waduk Jatigede, Sumedang siap menggenangi areal Waduk Jatigede.
Pintu air Waduk Jatigede, Sumedang siap menggenangi areal Waduk Jatigede.

POJOKJABAR.id, BANDUNG – Teka teki kepastian penggenangan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang masih belum terjawab. Namun, menurut rencana, hari ini, Senin (31/8/2015), pemerintah pusat akan menggenangi waduk yang dibangun sejak 50 tahun lalu itu.

Akan tetapi, kepastian itu pun kembali mentah karena hingga berita ini ditulis, tidak ada kepastian yang jelas dari Presiden Joko Widodo soal penggenangan tersebut. Namun, bagi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, penggenangan berpeluang besar dilakukan pada hari ini.

Saat ditemui di Gedung Sate, kemarin, Heryawan optimistis penggenangan akan dilakukan hari ini. Bahkan, menurut Heryawan, Presiden akan dikonfirmasi agar bisa hadir langsung di lokasi saat penggenangan dimulai. “Besok Insya Alloh jadi, karena sampai sekarang belum ada pembatalan,” kata Heryawan. Kepastian ini, lanjut Heryawan, diperkuat dengan telah disebarnya undangan terkait penggenangan tersebut. “Undangan sudah disebar kepada para undangan. Saya juga dapat undangan,” katanya.

Lebih lanjut Heryawan katakan, semua persiapan terkait penggenangan sudah tuntas dilakukan, terutama fisik. “Persiapan fisik bangunan 99,9 persen. Tinggal itu ditutup, jadi 100 persen,” katanya.


Heryawan kembali menegaskan, penggenangan dilakukan secara bertahap selama 265 hari atau sekitar sembilan bulan. Sehingga, proses pembayaran bagi warga belum masih bisa dilakukan. “Kan ada hari ke-10 sudah tergenang, ada hari ke-80, ada hari ke-100. Kan ada waktu untuk menyelesaikan kalau ada sisa masalah. Jadi itu ambil berjalan,” katanya.

Penggenangan Waduk Jatigede tak bisa ditunda. Waduk terbesar kedua setelah Jatiluhur ini akan diujicoba hari ini, Senin (31/8/2015). Pintu air Sungai Cimanuk akan dibuka dan sedikit demi sedikit menggenang wilayah sekitar.

Desa Jemah di Kecamatan Jatigede adalah desa pertama yang bakal tergenang. Namun, wilayah terdalam waduk ini tak tergenang seluruhnya, melainkan hanya bagian selatan saja.
Hanya sekitar 40 persen saja genangan di desa ini sehingga hanya satu unit sekolah yang dipindahkan.

“Kami sedang bersiap-siap pindah karena kami tergenang. Sekarang bagaimana kita cari tempat tinggal baru saja, jangan pusingkan penggenangan. Kalau sudah pindah sudah tenang,” kata Maman ,56, warga Desa Jemah, Minggu (30/8/2015).

Menurut rencana, tahap awal penggenangan ada di wilayah tiga desa, yakni Desa Jemah dan Desa Sukakersa di Kecamatan Jatigede lalu Desa Cipaku di Kecamatan Darmaraja.

Dari ketiga desa itu, penduduk Desa Cipaku yang sampai sekarang belum jelas pemindahannya.
Didin Nurhadi, Kepala Desa Cipaku mengatakan, satu hari menjelang penggenangan sudah tak bisa melakukan penolakan. Sebagai pimpinan di desa tersebut, ia hanya akan membantu warga bongkar-bongkar rumah. “Kami pasrah saja dengan keputusan ini. Sudah tak bisa menolak lagi. Jadi kami sekarang mengevakuasi warga saja lalu memastikan kepindahan mereka,” kata Didin, Minggu (30/8/2015).

Menurut Didin yang menjadi Ketua Forum Desa Genangan, penggenangan ini sudah jadi keputusan pemerintah pusat. Sebagai kepala pemerintahan desa, tak mungkin bersikap menentang pemerintah. Oleh karenanya, sehari sebelum penggenangan selain mengevakuasi warga, Didin menginventarisir permasalahan yang masih terjadi.

Di Cipaku, warga yang sudah menerima uang santunan hampir tuntas. Namun khusus bagi para ahli waris, baru terselesaikan 20 orang saja dari 400 orang yang tercatat. Cipaku akan tenggelam pada hari ke-50. Jadi, warga Cipaku masih punya waktu selama tujuh minggu. Sedikit masalah di desa ini yaitu tidak adanya tanah kas desa, sehingga tak bisa menjadi lahan baru untuk menjadi pemukiman baru. “Kami tak punya tanah kas desa yang bisa digunakan untuk pemukiman baru. Jadi warga pindah sendiri-sendiri saja. Kami membantu proses pemindahannya saja,” tambah Didin.

Dalam pembangunan Waduk Jatigede, ada 26 desa dari lima kecamatan yang akan tergenang. Enam desa diantaranya akan hilang sama sekali. Beberapa desa lainnya ada yang digabung dengan desa lainnya karena hanya sebagian wilayahnya saja yang tergenang.

Desa Cipaku adalah salah satu desa yang habis seluruhnya oleh genangan. Dua desa lainnya yang tenggelam adalah Leuwihideung, dan Cibogo. Ketiga desa ini berada di Kecamatan Darmaraja.

Sementara, tiga desa lainnya hilang sebagian namun sudah tak layak disebut desa dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk yaitu Sukakersa di Kecamatan Jatigede, Desa Padajaya di Kecamatan Wado, dan Desa Jatibungur di Kecamatan Darmaraja.

“Jadi tahap awal penggenangan itu yaitu Desa Jemah, Sukakersa dan Cipaku. Cipaku berada di elevasi rendah jadi tergenang semuanya,” kata Kepala Bagian Tata Pemerintahan Pemkab Sumedang Denny Tanrus.

Menurut Denny, penggenangan ini sudah disiapkan pemkab sebagai tindak lanjut dari intruksi pemerintahan di provinsi dan pusat.

Sampai tanggal 30 Agustus, Pemkab Sumedang terus bekerja di lapangan dengan memproses berbagai kegiatan terkait penanganan dampak sosial. Beberapa kegiatan sudah dilaporkan kepada pemerintah pusat, yakni proses pemindahan penduduk dari dalam ke luar genangan.

(RadarBandung/agp/suc)