Siap-siap Paslon ‘Tempur’ di Sosmed

Tiga Paslon Sah
Tiga Paslon Sah
Tiga Paslon Sah

POJOKJABAR.id, SOREANG – Kampanye di media sosial menjadi salah satu bentuk kampanye yang dijadwalkan dalam Pilkada Bandung 2015. Kampanye dalam dunia maya tersebut, dijadwalkan dimulai 27 Agustus hingga 5 Desember.

Ketua Pokja Kampanye KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya mengatakan, semua Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati harus menyerahkan akun resmi media sosial yang digunakan dalam masa kampanye kepada KPU, Panwaslu dan Polres Bandung supaya bisa mudah diawasi.

“Pada dasarnya, kampanye di media sosial sama seperti kampanye, aturan dasarnya tidak terkait dengan SARA (Sosial Adat Ras dan Agama), juga tidak menyimpang dari jati diri negara,” tutur Agus, Jumat (28/8/2015).

Namun walaupun kampanye di media sosial sudah dimulai, hingga saat ini KPU Kabupaten Bandung belum menerima akun resmi dari Paslon manapun.


Asep Saepul Muhtadi, pengamat politik UIN Bandung mengatakan, kampanye di media sosial memang bisa berpengaruh besar terhadap raihan suara, namun bisa juga sama sekali tidak berguna.

“Tergantung masyarakatnya juga, kalau masyarakatnya pengguna sosmed bisa efektif, tapi kalau banyak masyarakat yang tidak punya akun sosmed ya jelas kurang efektif,” ujarnya.

Kampanye di sosmed, bisa sangat efektif jika 70 persen masyarakat di satu wilayah mempunyai akun sosmed, namun jika di bawah angka tersebut, maka kampanye akan kurang efektif.

Seberapa besar tingkat apresiasi penggunaan media sosial di wilayah yang tengah melakukan Pilkada juga menjadipersoalan. Semuanya sangat bergantung kepada masyarakat. Saat ini kepercayaan masyarakat terhadap konten di media sosial cenderung meningkat.

Lebih lanjut Asep mengatakan, pembatasan bahan kampanye pada Pilkada serentak, diakui Asep akan mempengaruhi para pasangan calon. Kampanye merupakan proses sosialisasi kandidat dengan cara apapun, namun tak melanggar undang-undang. Jika ruang geraknya dibatasi, bisa merugikan seorang kandidat.

“Biarkan saja para calon berekspresi dengan caranya. Tinggal pakai rambu-rambu. Media konvensional itu bisa jadi media konsumsi masyarakat. Intinya secara politik harus bisa cerdaskan masyarakat dengan media apapun,” kata Guru Besar Komunikasi tersebut.

(RadarBandung/mld)