PON 2016 Dibuka dan Ditutup di Stadion Si Jalak Harupat

Deddy Mizwar
Deddy Mizwar
RAKOR PB PON: Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar saat menghadiri rapat koordinasi PB PON dengan sejumlah pihak terkait lainnya, di Cirebon, Jumat (28/8) malam.

POJOKSATU.com, CIREBON – Pengurus Besar Pekan Olahraga Nasional XIX/2016 Jawa Barat menetapkan Stadion Si Jalak Harupat menjadi tempat pelaksanaan upacara pembukaan dan penutupan PON, menggantikan Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang dinilai tidak layak. Penetapan ini terungkap saat rapat koordinasi PB PON dengan sejumlah pihak terkait lainnya, di Cirebon, Jumat (28/8) malam.

Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar mengatakan, pengalihan lokasi pembukaan dan penutupan PON ini dilakukan untuk menghormati proses hukum yang tengah dilakukan kepolisian terhadap Stadion GBLA.

“Beberapa waktu lalu, PB PON membahas masalah ini di rapat pimpinan. Lokasi opening dan closing ceremony PON Jabar harus diputuskan jauh-jauh hari sebelumnya,” kata Deddy.

Deddy menjelaskan, saat ini masih ada permasalahan hukum terhadap proses pembangunan Stadion GBLA. Pihaknya tidak akan memaksakan penggunaan stadion tersebut agar proses hukum berjalan lancar.


Dengan adanya penggunaan Stadion SJH, Deddy mengaku pihaknya sudah melakukan peninjauan langsung ke stadion yang terletak di Soreang, Kabupaten Bandung ini.

Berdasarkan penilaian timnya, Stadion Si Jalak Harupat layak menjadi lokasi upacara pembukaan dan penutupan PON Jabar.

“Kita sudah cek stadionnya dan cukup memenuhi persyaratan, hanya tinggal dibenahi,” katanya.

Stadion Jalak Harupat, salah satu sumber PAD Pemkab Bandung.
Stadion Jalak Harupat, salah satu sumber PAD Pemkab Bandung.

Dengan dialihkannya lokasi pembukaan dan penutupan PON Jabar 2016 ke Stadion SJH, lanjut Deddy, Pemerintah Provinsi Jabar bersama Kabupaten Bandung telah sepakat untuk melakukan percepatan pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja (Seroja).

Rencananya, jalan tol Seroja akan dibangun pada akhir bulan ini dan diharapkan selesai Agustus 2016.

“Semoga dengan dibangunnya tol Seroja, maka lalu lintas ke Stadion Si Jalak Harupat bisa lancar. Mudah-mudahan Agustus 2016 selesai, sehingga saat opening ceremony PON di bulan September itu bisa mempermudah akses,” katanya.

Lebih lanjut Deddy katakan, pihaknya berharap proses hukum di GBLA bisa segera dituntaskan. Meski saat ini tidak bisa digunakan, Deddy berharap ke depannya stadion tersebut bisa bermanfaat sesuai fungsi yang diharapkan.

Terlebih, keinginan masyarakat akan penggunaan stadion itu pun sangat besar. Salah satunya berasal dari bobotoh, sebutan untuk pendukung Persib, tim sepak bola kebanggaan masyarakat Kota Bandung bahkan Jabar.

“Kita berharap proses hukum tidak berlarut-larut mengingat GBLA dibangun dengan keuangan daerah. Tidak seperti hambalang yang mangkrak. Kalau ada yang bersalah, segera diputuskan. Kita harap ada percepatan proses hukum,” pungkasnya.

Ketua DPRD Jabar Ineu Purwadewi Sundari mendukung jika Stadion SJH terpilih untuk menggantikan Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang dinilai Polri tidak layak pakai. Ineu pun mengapresiasi langkah PB PON yang bergerak cepat dalam memutuskan lokasi untuk upacara pembukaan dan penutupan.

“Ya, harus segera ditentukan. PON ini kan tinggal dalam hitungan hari,” kata Ineu usai mengukuhkan pengurus Ikatan Keluarga dan Istri Anggota Dewan se-Wilayah III Jabar, di Pendopo Kabupaten Cirebon, Jumat (28/8).

Logi PON XIX Jawa Barat
Logi PON XIX Jawa Barat

Ineu menjelaskan, batalnya penggunaan Stadion GBLA tidak akan mengurangi kelancaran PON itu sendiri. Terlebih, lanjut Ineu, arena pertandingan lainnya terus dipersiapkan sehingga saat waktunya nanti siap digunakan.

“Tempat tidak menjadi kendala atau menandakan Jabar tidak siap PON. Yang penting harus kita benahi. Jabar siap menghadapi PON, di mana pun lokasinya berada,” katanya.

Disinggung stadion pengganti GBLA, Ineu menilai, kualitas Stadion SJH tidak perlu diragukan meski harus menampung banyak penonton. Kendati begitu, Ineu menilai perlu adanya sejumlah perbaikan terhadap stadion yang berlokasi di Soreang itu.

Terutama menyangkut akses jalan menuju SJH yang dinilainya terlalu kecil. “PB PON harus segera bergerak, saya waktu ke sana (SJH), akses jalannya kecil. Jadi harus dibenahi, akses ke ssana harus dipikirkan,” kata Ineu.

Selain akses jalan, Ineu pun menilai, penataan di Stadion SJH harus ditingkatkan. Hal ini penting untuk menjaga citra Jabar mengingat acara yang digelar berstandar nasional.

“Jalak Harupat harus ditata, harus ada perbaikan-perbaikan. Di sisinya ada lapang kosong begitu saja, jadi perlu penataan, agar lebih cantik,” ujarnya.

Sementara itu, Ineu berharap Stadion GBLA masih bisa digunakan. Perbaikan-perbaikan harus segera dilakukan agar keberadaan stadion di Gedebage ini tidak sia-sia.

“Saya berharap agar keinginan warga terhadap GBLA bisa terwujud. Stadion besar ini bisa digunakan, bermanfaat, jangan sampai dibangun tapi sia-sia,” kata Ineu yang mengaku kecewa jika pada akhirnya GBLA sama sekali tidak bisa digunakan.

Terlebih, lanjut Ineu, pembangunan stadion yang berkapasitas hingga 40 ribu penonton ini memakan biaya yang cukup besar.

“Perbaiki, ini bukan uang kecil, jangan mubazir. Semoga bisa digunakan, meski tidak sekarang,” pungkasnya.

(agp)