Imbas Dolar Melonjak, 500 Pekerja Kena PHK

Para buruh saat berdemo. Melonjaknya harga dolar dalam satu bulan terakhir berpengaruh besar terhadap industri padat karya di Kabupaten Bandung, ratusan pekerja terpaksa dirumahkan karena biaya produksi menjadi lebih tinggi.
Para buruh saat berdemo. Melonjaknya harga dolar dalam satu bulan terakhir berpengaruh besar terhadap industri padat karya di Kabupaten Bandung, ratusan pekerja terpaksa dirumahkan karena biaya produksi menjadi lebih tinggi.
Para buruh saat berdemo. Melonjaknya harga dolar dalam satu bulan terakhir berpengaruh besar terhadap industri padat karya di Kabupaten Bandung, ratusan pekerja terpaksa dirumahkan karena biaya produksi menjadi lebih tinggi.

POJOKJABAR.id, SOREANG – Melonjaknya harga dolar dalam satu bulan terakhir berpengaruh besar terhadap industri padat karya di Kabupaten Bandung, ratusan pekerja terpaksa dirumahkan karena biaya produksi menjadi lebih tinggi. “Ada sekitar 500 orang pekerja di wilayah Kabupaten Bandung dirumahkan,”tutur Ketua SPN Kabupaten Bandung, ade Suryatna, Jumat (28/8/2015).

Disebutkannya, kembanyakan pekerja yang dirumahkan merupakan tenaga-tenaga kerja kontrak di wilayah Majalaya, Katapang dan Cicalengka. Perusahaan, masih mempertahankan pekerja tetap.

Perusahaan yang terpaksa merumahkan sebagian pekerjanya bergerak di bidang tekstil atau padat karya, karena bahan baku didapat dari import, sehingga melonjaknya dolar amerika berpengaruh besar terhadap biaya produksi perusahaan. “Tekstil di Kabupaten Bandung kebanakan memasarkan hasil produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, sementara bahan baku didapat dari import,”ujarnya.

Untuk batas waktu bagi perusahaan yang merumahkan pekerjanya, memang diakuinya tergantung pada situasi ekonomi nasional. Ada kemungkinan, ujar dia, mereka dirumahkan sampai pertengahan September depan. Namunn jikakeadaan ekonomi global masih belum stabil, kemungkinan besar perusahaan akan memperpanjang waktu perumahan para pekerja. “Kami berharap agar perusahaan tetap membayar hak pekerja yang dirumahkan, juga nanti mereka ditarik kembali,”ujarnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung, Rukmana, menuturkan, hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan terkait adanya perusahaan yang merumahkan pekerjanya ataupun yang melakukan PHK. “Kalau memang ada yang dirumahkan, kita akan koordinasi dengan serikat pekerjanya, karena 500 orang itu cukup banyak juga,” ujar dia.

Namun, jika memang sudah ada yang dirumahkan, maka perusahaan harus tetap memenuhi hak-hak pekerjanya, yakni dengan cara tetap memberikan upah kepada pekerja yang dirumahkan. “Kalau memang dirumahkan, hak hak mereka harus diperhatikan, upahnya, hak-hak normatifnya harus diperhatikan, sambil menunggu situasi ekonomi yang membaik,” kata dia.

Untuk batasan waktu merumahkan pegawai, memang menunggu kondisi perekonimian nasional membaik. Tapi, tentu sebelum merumahkan pegawainya ada kesepakatan antara perusahaan dengan pekerja.

Namun, untuk perusahaan yang melakukan PHK pegawainya, ia yakin belum ada. Sebab, sebelum melakukan PHK itu harus dikabari dahulu ke Disnaker 30 hari sebelum memutus hubungan kerja dengan pegawainya.

Tapi, dalam kondisi ini, bukan berarti tidak ada perusahaan yang melakukan PHK. Sebab, bisa saja ada kemungkinan perusahaan yang bersangkutan tidak melapor ke disnaker, atau mereka menempuh cara merumahkan pegawai sambil menunggu situasi ekonomi membaik.

Ia menjelaskan, banyaknya para pekerja yang dirumahkan oleh perusahaan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Sebab, itu cara perusahaan dalam menyikapi situasi perekonomian nasional saat ini.

“Situasi ekonomi di kita lagi enggak bagus. Dolar yang menguat, pasokan daya beli yang kurang. Bahan bakunya yang harganya menjadi mahal,” kata dia.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Pemkab Bandung, Marlan, mengakui lemahnya perekonomian nasional ini memberikan dampak negatif kepada Kabupaten Bandung. Terutama pada pertekstilan.

Kata dia, beberapa perusahaan pun sudah ada yang merumahkan pekerjanya. Namun, untuk perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga saat ini belum ada.

“Yang paling berdampak itu pengusaha yang menggunakan bahan-bahan impor, otomatis dengan kenaikan harga dolar, kan itu akan berdampak biaya produksi. Ini juga mengurangi daya saing kita,” kata dia.

Namun, beberapa industri justeru cukup diuntungkan dengan melemahnya nilai rupiah, salah satunya perusahaan-perusahaan UMKM yang melakukan eksport barang ke luar negeri. “Banyak juga yang diuntungkan, speerti eksportir barang-barang yang menggunakan bahan baku lokal,”ucapnya.

(RadarBandung/mld)