Polda Selidiki Penimbunan Daging Sapi

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKJABAR.id,BANDUNG-Polda Jabar terus lakukan penyelidikan mengenai dugaan penimbunan yang dilakukan perusahaan penggemukan sapi. Bahkan kini Polda Jabar melibatkan saksi ahli guna mengusut tuntas kasus dugaan tersebut.

Pasalnya, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan waktu batas maksimal bagi sebuah perusahaan daging sapi untuk menyimpan bahan daging tersebut.

“Saya belum menemukan, berapa lama batas maksimal seseorang itu bisa memendam sapi dalam feedloternya, itu belum ada peraturan pemerintahnnya, berbeda dengan beras. Itu ada peraturannya,” kata¬† Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jabar, Kombes Pol Wirdhan Denny, yang di hubungi wartawan, Rabu (26/8/2015).

Penyelidikan ini merupakan tindak lanjut menyusul keluarnya Maklumat Kapolri Jenderal Badrodin Haiti Nomor MAK/01/VIII/2015 tentang Larangan Melakukan Penimbunan atau Penyimpanan Pangan dan Barang Kebutuhan Pokok.


Dikatakan, Undang-undang yang digunakan dalam dugaan kasus tersebut yakni menggunakan pasal 133 UU nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dengan ancaman penjara 7 tahun atau denda paling banyak Rp 100 miliar dan pasal 104 UU nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau denda Rp 50 miliar.

Namun begitu untuk mengetahui waktu batas maksimal perusahaan untuk menyimpan bahan daging tersebut, pihaknya melibatkan saksi ahli. “Sesuai atensi kapolda, sebelum memastikan siapa tersangka, kita diminta untuk mendengarkan keterangan saksi ahli, mulai dari ahli pertanian, perdagangan, maupun ahli pidana,” katanya.

Sejauh ini, lanjutnya, pihaknya telah memeriksa 17 perusahaan penggemukan daging sapi di wilayah Jabar, namun dari ke 17 perusahaan tersebut 5 perusahaan diduga kuat melakukan pelanggaran. Namun hal tersebut harus dibuktikan sesuai fakta. “Masih ada 5 perusaahan yang kita periksa. Yang diduga kuat. Maka dari itu kita periksa saksi ahli.
Kita masih dalami feedloter, dan mendengarkan saksi ahli,” katanya.

Belum ada tersangka dalam kasus dugaan ini, namun hingga kini pihaknya terus mendalami kasus dugaan tersebut. “Saya akan tetap mendalami, sapi-sapi yang didatangkan dari Australia, dan memeriksa dokumennya. Sudah berapa bulan untuk penggemukan, kalau faktanya melebihi (waktu batas maksimal) dari untuk penggemukan, tapi tidak di edarkan atau di di pindahkan ke tempat pemotongan, berarti di situ diduga ada penimbunan. Kami minta waktu untuk dalami ini, mohon doanya saja,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, beberapa feedloter yang telah dicek Polda Jabar itu berada di Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Bandung. Adapun beberapa perusahaan tersebut yakni PT Citra Agro Bromo (Kabupaten Garut), CV Mitra Agro Sangkuriang dan PT Pasir Tegal (Kabupaten Cianjur), PT Agri Satwa Jaya Kencana (Kabupaten Subang), dan PT Andini Makmur serta PT Kadila Lestari Jaya (Kabupaten Bandung).

Setiap feedloter tersebut memiliki jumlah sapi yang berbeda, berdasarkan data Polda Jabar, PT Citra Agro Bromo memiliki sapi lokal sebanyak 42 ekor, sapi bakalan sebanyak 4.945 ekor, dan sapi siap potong sebanyak 1.741 ekor. CV Mitra Agro Sangkuriang memiliki sapi lokal 630 ekor, sapi bakalan 1808 ekor, dan sapi siap potong sebanyak 500 ekor.

PT Agri Satwa Jaya memiliki sapi lokal sebanyak 350 ekor, sapi bakalan sebanyak 13.769 ekor, dan sapi siap potong sebanyak 2.166 ekor. PT Andini Makmur dan PT Kadila Lestari Jaya memiliki sapi lokal sebanyak 953 ekor, sapi bakalan sebanyak 8.562 ekor, dan sapi siap potong sebanyak 535 ekor. PT Pasir Tegal memiliki sapi lokal sebanyak 326 ekor, sapi bakalan sebanyak 8.802 ekor, dan sapi siap potong sebanyak 2.306 ekor.

(RadarBandung/sar)