Pemerintah Yakini Krisis Moneter 1998 Tak Terulang

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika makin melelmah namun hal itu dianggap tidak berpengaruh terhadap kondisi keuangan Provinsi Jawa Barat.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika makin melelmah namun hal itu dianggap tidak berpengaruh terhadap kondisi keuangan Provinsi Jawa Barat.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika makin melelmah namun hal itu dianggap tidak berpengaruh terhadap kondisi keuangan Provinsi Jawa Barat.

POJOKJABAR.id,BANDUNG-Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika dianggap tidak berpengaruh terhadap kondisi keuangan Provinsi Jawa Barat. Hal ini dikarenakan komponen belanja Pemprov Jabar lebih banyak yang berasal dari dalam negeri.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menyebut, tidak banyak belanja pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota yang menggunakan dollar. “Belanja APBD Jabar itu kebanyakan pakai rupiah, sehingga enggak ada persoalan,” kata Heryawan, Rabu (26/8/2015).

Dengan begitu, pihaknya belum akan merevisi APBD 2015 ini. “Penyesuaian anggaran belum kita lakukan, mudah-mudahan tidak ada. Dalam proses pembangunan, Insha Alloh enggak terancam,” katanya.

Heryawan pun meminta masyarakat agar tidak panik dalam menyikapi pelemahan rupiah ini. Menurutnya, berdasarkan pernyataan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perekonomian, BPS, dan Bank Indonesia, kondisi perekonomian saat ini tidak akan mengakibatkan krisis moneter seperti yang terjadi pada 1998 silam.


Keyakinan ini didasari beberapa hal, seperti masih kuatnya cadangan devisa. “Cadangan devisa negara per Juli 2015 mencapai 107 miliar dollar Amerika, ini cukup untuk memenuhi kebutuhan impor selama tujuh bulan,” katanya.

Hal berbeda terjadi pada 1998 silam, karena cadangan devisa hanya 14,44 miliar dollar sehingga fundamen ekonomi negara dinilai jauh lebih lemah. Selain itu, tambah Heryawan, pelemahan indeks saham gabungan saat ini pun tidak seburuk pada krisis moneter 1998.

Heryawan menambahkan juga, kapitalisasi pasar di akhir Agustus ini masih tinggi yakni Rp 4.310 triliun. Sedangkan pada 1998 lalu menciut drastis di angka Rp 226 triliun.

Kondisi ekonomi saat ini pun, katanya, masih diperkuat oleh sektor minyak dan gas. Meski anjlok, situasinya tidak separah pada 1998.

“Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997,” katanya. Oleh karena itu, menurutnya, tidak heran jika laju pertumbuhan ekonomi Jabar triwulan II 2015 ini masih tumbuh 4,88 persen.

Heryawan pun semakin optimistis kondisi perekonomian Jabar akan tetap baik seiring peningkatan serapan APBD. Heryawan mengakui, saat ini serapan APBD Jabar masih 36 persen.

Namun, penyerapan akan terus meningkat sesuai instruksi Presiden Joko Widodo agar pemerintah mempercepat penyerapan anggaran. Heryawan menuturkan, rendahnya penyerapan anggaran ini salah satunya karena faktor kehati-hatian dari pemerintah.

(RadarBandung/agp)

bagan