Perusak Fasilitas Sekolah Dipolisikan

Seorang pelajar melintasi papan bertuliskan "Perhatian Dilarang Mendirikan Bangunan di Atas Lahan Milik Warga RW 22" berdiri tegak yang di pasang oleh warga di tengah lahan yang saat ini akan dibangun empat RKB SMPN 3 Ngamprah, Senin (24/8/2015)
Seorang pelajar melintasi papan bertuliskan "Perhatian Dilarang Mendirikan Bangunan di Atas Lahan Milik Warga RW 22" berdiri tegak yang di pasang oleh warga di tengah lahan yang saat ini akan dibangun empat RKB SMPN 3 Ngamprah, Senin (24/8/2015)
Seorang pelajar melintasi papan bertuliskan “Perhatian Dilarang Mendirikan Bangunan di Atas Lahan Milik Warga RW 22” berdiri tegak yang di pasang oleh warga di tengah lahan yang saat ini akan dibangun empat RKB SMPN 3 Ngamprah, Senin (24/8/2015)

POJOKJABAR.id,NGAMPRAH – Setelah adanya perusakan pada fasilitas saung tempat para pekerja beristirahat dan juga papan proyek sekolah dicopot oleh sekolompok warga yang mengatasnamakan dari Kompleks Bukit Permata, RW 22, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), secara resmi pihak SMPN 3 Ngamprah melaporkan kepada pihak kepolisian.

Berdasarkan pantauan, kondisi saung tempat istirahat para pekerja bangunan di sekolah tersebut dalam kondisi rusak. Bahkan, papan¬† bertuliskan “Perhatian Dilarang Mendirikan Bangunan di Atas Lahan Milik Warga RW 22” berdiri tegak yang di pasang oleh warga di tengah lahan yang saat ini akan dibangun empat Ruang Kelas Baru (RKB).

Ketua Pembangunan Sekolah SMPN 3 Ngamprah, Ateng Sulaiman menuturkan, perusakan fasilitas di area pembangunan untuk 4 RKB ini terjadi pada Minggu (23/8/2015) sekitar pukul 09.00 WIB. Pada saat terjadinya perusakan, para pekerja yang berjumlah 6 orang tengah melakukan proses pembangunan.

“Sekelompok orang tiba-tiba yang mengatasnamakan warga RW 22 melakukan perusakan dan memasang papan bahwa tanah ini milik warga. Ada sekitar 20 hingga 30 orang warga yang datang merusak fasilitas di sini (SMPN 3 Ngamprah),” kata Ateng kepada wartawan ditemui di SMPN 3 Ngamprah, Senin (24/8/2015).


Menurut Ateng, sekelompok warga yang datang tersebut langsung dipimpin oleh ketua RW 22. Lantaran para pekerja merasa ketakutan, pembangunanpun sementara dihentikan hingga dua hari ke depan.¬† “Bagi kami kalau hanya memberikan teguran untuk menghentikan pembangunan tidak menjadi soal. Tapi, kalau sudah ada perusakan, itu beda lagi urusannya,” katanya.

Selain itu, di tempat yang sama, Kepala SMPN 3 Ngamprah Juhaendi menambahkan, untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi keselamatan para pekerja, pihaknya langsung melaporkan kepada pihak kepolisian terhitung saat ini Senin (24/8/2015) dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk menjaga rasa aman selama proses pembangunan RKB ini berlangsung.

“Kita akan melaporkan kepada polisi yang bertujuan untuk meminta perlindungan agar dalam proses pembanguann RKB ini berjalan aman dan kondusif,” ungkapnya.

Proses pembangunan RKB ini, kata dia, sebenarnya sudah berlangsung sejak Kamis pekan lalu dengan melakukan penggalian. Namun, lantaran pada Minggu mendapatkan penolakan dan juga adanya perusakan, maka pembangunan harus dihentikan.

“Sebenarnya kami ini sudah hampir dua minggu molor proses pembangunan RKB ini. Karena kami juga sudah memiliki target kapan dimulai dan kapan selesai. Karena berbagai masalah di lapangan, maka kita juga harus membuat laporan secara tertulis baik kepada kepolisian maupun ke disdik,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Desa Cilame Aas Moch Asor membenarkan terjadinya aksi warga tersebut. Ia meminta warga untuk menahan diri jangan sampai terjadi konflik horizontal antara pihak yang mendukung pengembangan sekolah dengan warga RW 22.

“Sebagai kepala desa saya harus berdiri di atas dua kepentingan. Dunia pendidikan harus diselamatkan begitupun dengan fasitas umum yang sudah dituntut warga sejak lama harus direalisasikan,” kata Aas.

Sebelumnya, warga di RW 22 Perum Bukit Permata Desa Cilame Kecamatan Ngamprah menagih janji pihak sekolah SMPN 3 Ngamprah terkait janji akan memperbaiki jalan yang rusak sesuai dengan MoU yang disepakati antara pihak sekolah dengan warga sekitar. Akibatnya, rencana pihak sekolah yang akan membangun 4 unit ruang kelas baru (RKB) harus tertunda lantaran pihak sekolah belum merealisasikan perbaikan jalan sesuai kesekapatan sebelumnya.

Sekretaris Forum Warga RW 22 Bukit Permata Nurhakim menyatakan, penolakan untuk tidak membangun RKB yang baru, karena pihak sekolah tidak menepati janji mereka terhadap warga. Sejak didirikan sekolah SMPN 3, pihak sekolah sudah membuat komitmen dengan warga bahwa akan melakukan perbaikan jalan.

Tapi, hinga saat ini belum juga diperbaiki. Kita bukan menolak tanpa alasan tapi ada sebabnya. Sebenarnya ini perbaikan jalan menuju sekolah yang berada di RW 22 juga sepanjang 1 km,” tuturnya.

(RadarBandung/cr8)