Konsumen Daging Sapi Masih Sepi

Pedagang daging sapi di Pasar Atas Jln. Djulaeha Karmita Kota Cimahi, tampak menjajakan dagangannya, Kamis (13/8/2015).
Pedagang daging sapi di Pasar Atas Jln. Djulaeha Karmita Kota Cimahi, tampak menjajakan dagangannya, Kamis (13/8/2015).
Pedagang daging sapi di Pasar Atas Jln. Djulaeha Karmita Kota Cimahi, tampak menjajakan dagangannya, Kamis (13/8/2015).

POJOKJABAR.id,CIMAHI – Aksi mogok penjual daging berakhir kemarin, Rabu (12/8/2015). Para penjual daging sapi mulai kembali berjualan Kamis (13/8/2015). Terpantau di beberapa pasar tradisional Kota Cimahi, salah satunya di Pasar Atas Jln. Djulaeha Karmita Kota Cimahi, tampak penjual daging sapi sudah kembali membuka lapak dagangnya. Namun demikian, konsumen masih tampak sepi.

Seorang penjual daging Sapi di Pasar Atas Kota Cimahi, Muhamad Fathoni ,30, menuturkan, sesuai surat edaran dari Asoasi Pedagang Daging dan Sapi Potong Indonesia (APDASI) yang melakukan aksi mogok selama lima hari terhitung dari tanggal 8-12 Agustus 2015. Karenanya, mulai hari ini, Kamis (13/8/2015) dirinya mulai kembali berdagang.

“Ya sesuai dari surat edaran APDASI, saya kembali berjualan hari ini. Tapi pembeli masih sepi, mungkin mereka masih belum tahu bahwa penjual daging sapi sudah mulai berjualan lagi,” ujarnya, Kemarin.

Toni sapaan akrabnya menuturkan, harga daging sapi saat ini masih di harga Rp 110 ribu/kg. Masih sedikit pembeli yang berdatangan, bahkan diantaranya masih ada yang mengeluhkan harga tersebut. “Harga daging sapi masih Rp 110 ribu perkilonya. Sampai saat ini hanya sedikit pembeli yang datang. Konsumen yang beli daging sapi masih banyak yang mengeluh,” tuturnya.


Menurutnya, harga daging tiap tahunnya memang selalu naik tidak menentu. Meskipun telah menggelar aksi mogok, tapi nyatanya tidak membuahkan hasil. Harga daging masih Rp 110 ribu/kg sama dengan harga sebelum melakukan aksi mogok berjualan. “Kemarin para pedagang kompak untuk mogok berjualan, tapi tidak ada hasilnya. Percuma kalau kita mogok lagi juga,” tuturnya.

Ia menjelaskan, masih banyak konsumen yang belum mengetahui bahwa daging yang dijualnya merupakan daging lokal. Sedangkan daging yang dijual di OPM merupakan daging impor. “Bahkan ada pembeli yang bilang, bahwa lebih murah beli daging di OPM ketimbang membeli di penjual daging,” jelasnya.

Terpisah, Wali Kota Cimahi Atty Suharti mengatakan, karena situasi yang memberikan dampak kepada semua. Untuk itu, pihaknya bersama Bulog Jawa Barat melaksanakan Operasi Pasar Murah untuk membantu masyarakat dan juga pedagang. “Kita bersama Bulog Jabar dengan harga standar yakni Rp 90 ribu/kg. Diharapkan dengan adanya OPM ini, pedagang bisa berjualan lagi,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan OPM ini merupakan upaya dari pemerintah untuk menstabilkan kembali harga daging tersebut, serta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut Atty mengajak kepada semua pihak terutama para produsen atau pemasok, jangan hanya melihat dari sisi keuntungan semata di situasi sekarang seperti ini, tetapi harus melihat di sekelilingnya juga. “Selain pedagang yang rugi karena tidak berjualan, masyarakat juga rugi terutama bagi mereka pelaku usaha yang membutuhkan bahan dasar daging,” ungkapnya.

Atty juga menghimbau kepada para konsumen atau masyarakat untuk bisa mengalihkan kebutuhan makanan harian ke jenis makanan yang lainnya. Karena kebutuhkan daging sapi hanya untuk kalangan tertentu saja, sedangkan masyarakat pasti tidak membeli daging setiap hari.

“Karena saat ini daging ayam lun masih tinggi, masyarakat masih bisa mengalihkan ke jenis makanan lain dengan komposisi nilai gizi dan protein yang sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian (Diskopindagtan) Kota Cimahi, Huzein Rachmadi mengatakan, saat ini harga di pasar tradisional berkisar di Rp 105-120 ribu/kg, namun rata-rata harga di Rp 110 ribu/kg. Sedangkan di pasar modern harganya Rp 82-90 ribu/kg.

“Kemarin kan ada aksi mogok, sehingga kita mengadakan operasi pasar murah (OPM) dalam rangka menolong konsumen untuk membantu kebutuhannya,” ujarnya.

Huzen menuturkan, saat ini pihaknya masih terus memantau harga di pasaran. Karena aksi mogok sudah selesai, diharapkan segera ada keseimbangan harga lagi. Menurutnya, diadakan OPM semata-mata untuk menolong kebutuhan konsumen.

“Kalau melihat harga sebelum mogok dan harga yang sekarang, itu kan masih di harga Rp 110 ribu/kg sedangkan di OPM kan kita di harga Rp 90 ribu/kg. Diadakannya OPM hanya untuk menolong kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut Huzen mengatakan, pihaknya akan melihat terlebih dahulu kedepannya untuk dikaji bersama. Apabila perlu diadakan lagi OPM, maka pihaknya akan melaksanakan OPM lagi. Tentunya pemerintah masih bisa dimungkinkan untuk melaksanakan OPM. “Tentunya harus melihat dari berbagai macam sisi dari konsumen dan pedagang, agar tidak ada gejolak yang merugikan semua pihak. Karena itu, perlu ada keputusan bersama untuk apa kedepannya yang harus ditindaklanjuti,” ungkapnya.

(RadarBandung/cr7)