Janji Seret Pabrik Pencemar Lingkungan

Dadang M. Naser
Dadang M. Naser
Dadang M. Naser

POJOKJABAR.id,SOREANG – Bupati Bandung Dadang M Naser menegaskan akan segera menyeret pemilik perusahaan yang terbukti membuang limbahnya secara langsung ke sungai. Kasus pembuangan limbah pabrik secara langsung itu terjadi di wilayah Rancaekek Kabupaten Bandung dan sempat menjadi sorotan media massa beberapa waktu yang lalu.

“Kalau pemilik pabrik itu dianggap sudah melanggar Undang-undang Lingkungan Hidup dan sudah masuk ranah hukum, saya akan seret perusak lingkungan tersebut. Kami akan segera berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak tegas perusak lingkungan,” tegas Nasersaat ditemui di Soreang, belum lama ini.

Menurutnya, dengan tindakan tegas, para pemilik pabrik di wilayah Rancaekek dan sekitarnya sudah berjanji tidak akan membuang limbahnya sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

“Saya sudah tugaskan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Bandung untuk terus memonitor dan memberikan pembinaan terhadap pabrik-pabrik yang membuang limbah sembarangan. Pemilik pabrik kan sudah berjanji tidak akan membuang limbahnya langsung ke sungai, tapi ternyata masih saja dilanggar,” tutur Naser.


Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup, setidaknya lima upaya menghentikan pencemaran juga telah dilakukan pemerintah pusat maupun daerah secara berkesinambungan. Upaya yang intens dilakukan sejak 2002 hingga 2014 kebanyakan berupa langkah persuasif di luar pengadilan, antara lain berupa mediasi dan memberi peringatan. Namun upaya-upaya tersebut tidak menghasilkan perubahan signifikan bagi masyarakat terimbas limbah.

Kondisi tersebut, membuat warga Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung yang terimbas limbah industri tekstil memilih pasrah. Meski pencemaran sudah berlangsung puluhan tahun, hingga saat ini belum ada solusinya. Sejumlah aksi protes yang pernah dilakukan pun tidak mampu mengubah keadaan.

Salah seorang petani, Didi Sukandi ,74, mengaku, tiga demonstrasi pernah ia lakoni dalam kurun waktu sepuluh tahun. Masing-masing sekitar tahun 2000, 2005, dan 2010. Dalam aksinya, ia bersama puluhan petani Kecamatan Rancaekek yang sawahnya tercemar mendatangi manajemen PT Kahatex sebagai perusahaan terduga pembuang limbah terbesar. “Kami meminta perusahaan tersebut mengolah limbah sebelum dibuang ke Sungai Cikijing. Meski tuntutan selalu bisa mereka sampaikan, dikatakan¬† Didi, pencemaran tetap berlangsung bahkan semakin meluas,” katanya.

(RadarBandung/apt)