Guru Difabel Juga Minta Perhatian

Seorang guru difabel memberikan pelajaran, seharusnya guru-guru difabel yang berkubutuhan khusus juga diterima untuk bekerja di sekolah umum.
 Seorang guru difabel memberikan pelajaran, seharusnya guru-guru difabel yang berkubutuhan khusus juga diterima untuk bekerja di sekolah umum.
Seorang guru difabel memberikan pelajaran, seharusnya guru-guru difabel yang berkubutuhan khusus juga diterima untuk bekerja di sekolah umum.

POJOKJABAR.id,CIMAHI – Ketika pemerintah menggembar-gemborkan pendidikan inklusi, selain anak berkebutuhan khusus yang diterima di sekolah umum, seharusnya guru-guru difabel yang berkubutuhan khusus juga diterima untuk bekerja di sekolah umum.

Ketua Halaqoh Tunanetra Qur’aanii (HTQ), Ardiansyah Kurniawan S. Pdi mengatakan, disatu sisi anak berkebutuhan khusus (ABK) diperbolehkan bersekolah di sekolah umum. Tapi disisi lain, guru-guru disabilitas tuna netra itu tidak begitu saja mudah masuk ke sekolah umum. “Banyak penolakan-penolakan dari sekolah umum. Jadi tamatan kuliah tuna netra sarjana-sarjana nya lagi-lagi harus mengajar di sekolah luar biasa (SLB) lagi,” ujarnya, Jumat (7/8/2015).

Ardiansyah menuturkan, banyak penolakan dari sekolah-sekolah umum dengan berbagai alasan, padahal kita sedang mencari sebuah pekerjaan untuk pengabdian. “Banyak alasan seperti, disini belum ada tempat lagi nih gurunya masih banyak, dan boleh masuk tapi nunggu ada yang keluar dulu. Padahal di sekolah tersebut pernah menyelenggarakan seminar tentang pendidikan inklusi,” tuturnya.

Menurutnya, di Kota Cimahi belum terlihat ada guru yang berkubutuhan khusus yang bisa mengajar di sekolahan umum. Karena untuk masuk ke sekolahan umum selalu menemui kesulitan.


“Untuk mengajar di sekolah umum belum ada terlihat karena masuk ke umum susah, tapi di SLB banyak. Bahkan akibatnya banyak tuna netra yang menjadi tidak percaya diri untuk mengajar di sekolah umum, karena takut dipersulit itu,” ucapnya.

Lebih lanjut Ardiansyah mengatakan, seharusnya pendidikan bisa menggabungkan antara orang umum dan orang khusus. “Mereka mengadakan seminar pendidikan inklusi, mereka ingin menerima anak-anak berkebutuhan khusus anak-anak difabel, tapi ternyata guru-gurunya difabelnya sendiri tidak diterima,” ujarnya.

Ardiansyah berharap, apabila Pemerintah menggembar-gemborkan pendidikan inklusi, maka Pemerintah harus melihat hal ini. Ketika mereka menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus, seharusnya menerima juga guru yang berkebutuhan khusus.

“Kalau tidak ada pembedaan, seharusnya seperti itu. Tuna netra perlu perhatian khusus, jadi jangan asal nerima doang tapi juga harus bertanggung jawab, jadi saya berharap Pemerintah untuk memperhatikan nasib kami tuna netra yang ingin bekerja mengajar di sekolah umum,” tutupnya.

(RadarBandung/cr7)