Ditolak Warga, Pembangunan Pabrik Kapur Dihentikan

satpol ppPOJOKSATU.id, NGAMPRAH -Pasca penolakan keras dari warga sekitar,  Satuan Polisi Pamopng Praja (Satpol PP) Kabupaten Bandung Barat terpaksa menghentikan kegiatan pembangunan pabrik kapur di Kampung Gunung Masigit RT 3 RW 8, Desa Masigit, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat (KBB). Aktivitas pembangunan  pabrik pembakaran kapur milik CV. Kapur Jaya sudah terhenti  setelah sebelumnya ratusan warga menolak keberadaan pabrik tersebut.

Menurut Kasatpol PP KBB, Rini Sartika  aktivitas pembangunan pabrik tersebut sudah berhenti sejak  Senin (8/6/2015) lalu. Ini  setelah adanya kesepakatan antara warga, pengusaha (pemilik pabrik) yang difasilitasi oleh Pemkab Bandung Barat.

“Untuk pembangunan pabrik kapur iu dihentikan setelah adanya kesepakatan bersama,” kata Rini kepada wartawan di Ngamprah, seperti dilansir Radar Bandung, Sabtu (13/6/2015).

Menurut Rini, pembangunan pabrik tersebut dihentikan dalam waktu yang tidak ditentukan. Dari hasil kesepakatan, pabrik tersebut harus mengantongi izin yang lengkap termasuk adanya persetujuan dari warga sekitar.

“Selain adanya izin bangunan dan izin operasional, pihak pengusaha juga harus meminta izin dari warga sekitar,” ungkapnya.

Keberadaan Satpol PP, lanjut Rini, sebagai penegakan perda akan bekerja semaksimal mungkin untuk menindak bangunan-bangunan yang terbukti belum mengantongi izin. Hal ini dilakukan agar para pengusaha dan masyarakat pada umumnya tidak mendirikan bangunan tanpa memiliki izin.

“Kita akan tindak bangunan liar tanpa izin,” tegasnya.

Rini juga menjelaskan, sebelum proses izin pabrik tersebut rampung, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan warga sekitar untuk ikut membantu memantau dil lokasi. Bilamana, pihak pabrik tetap memaksakan melakukan pembangunan, warga diimbau untuk melaporkan kepada pemkab.

“Kami akan turunkan personel dan menindak tegas apabila ada yang melakukan aktivitas pembangunan,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang warga setempat Lilis Sumirat (58), yang rumahnya berada tepat di sebrang jalan depan pabrik pembakaran kapur tersebut merasa khawatir akan berdirinya pabrik di dekat pemukiman warga. Ibu yang sehari-hari berdagang buah-buahan itu, bahkan dengan lantang menolak keras keberadaan pabrik yang dapat menimbulkan pencemaran udara. Sebab disaat sedang dalam proses pembangunan pun, pencemaran udara sudah dirasakan warga.

“Iya pasti, Kami merasa dirugikan dengan adanya pabrik kapur tersebut. Kami minta pemerintah menghentikan pembangunan pabrik tersebut. Sebab saat ini sedang dalam proses pembangunan pabrik,” bebernya.

Selain dapat mencemari lingkungan, tepat di depan pabrik itu, terdapat Sekolah SD, kantor Kepala Desa dan Masjid. Maka keberadaan pabrik tersebut dikhawatirkan akan mengganggu aktivitasnya.(cr8)

Feeds