Begini Cara Petani di Koperasi Dangiang Lindungi Lingkungan Hidup

ilustrasi

ilustrasi

POJOKJABAR.com, GARUT– Sampah, bagi sejumlah petani Koperasi Dangiang di Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut Jawa Barat bisa “disulap” menjadi pupuk organik untuk kebutuhan pertanian.

Hal ini menjadi fokus Koperasi Dangiang menangani masalah lingkungan termasuk menanggulangi limbah sampah hingga menjadi produk pupuk organik sejak tahun 2000. Koperasi ini sendiri berdiri sejak 1999.

Sekretaris Koperasi Dangiang Heri Mochammad Fajar di Garut, Rabu (13/12/2014) mengiyakan bahwa Koperasi ini bergerak untuk mengendalikan lingkungan dan menanggulangi limbah sampah agar bermanfaat.

Sebelumnya, kata dia, para petani yang tergabung dalam koperasi membahas permasalahan pertanian, termasuk menerapkan konsep pertanian yang ramah lingkungan. Mereka sepakat mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan. Kami juga ingin mengolah limbah. Lalu belajar cara membuat pupuk organik,” kata Fajar.

Petani di Koperasi Dangiang melakukan gerakan mencegah tumpukan sampah rumah tangga, termasuk sampah yang ada di Pasar Wanaraja. Mereka, tambahnya, menganggap apabila sampah terus menumpuk dan tidak diolah akan menimbulkan masalah baru seperti penyebaran penyakit.

“Dari masalah itulah dibuat menjadi produk pupuk organik. Lalu kami gunakan di sini. Termasuk beberapa kecamatan lainnya sampai ke Palembang, Pekanbaru dan Jawa Timur,” katanya.

Penggunaan pupuk organik itu sebagai upaya menjaga kondisi lahan pertanian agar tidak rusak. Sudah banyak lahan pertanian rusak akibat penggunaan pupuk kimia.

“Pengelolaan sampah menjadi pupuk organik sangat mudah dengan cara mengumpulkan sampah sayuran yang menumpuk di pasar sebanyak 6 ton sampah setiap harinya,” tuturnya.

Koperasi Dangiang, katanya, mampu memproduksi pupuk organik sebanyak enam sampai 10 ton setiap harinya, kemudian dijual kepada para petani dengan harga Rp 800 sampai Rp 1.200 per kilogram.

“Harga pupuk organik lebih murah Rp.800 per kilo untuk kualitas dua, Rp.900 per kilo untuk kualitas 1 dan Rp.1.200 per kilo untuk organik plus,” pungkasnya.

(mar/pojokjabar)


loading...

Feeds