Gara-gara Ini Ratusan Warga Bantarkalong Harus Dipindahkan ke Huntara Sukabumi

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami saat memberikan kunci Huntara kepada warga secara simbolis di Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Selasa (15/5/2018).

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami saat memberikan kunci Huntara kepada warga secara simbolis di Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Selasa (15/5/2018).

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Ratusan warga terdampak pergerakan tanah di Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara akhirnya bisa bernafas lega. Lantaran, korban yang sebelumnya menempati tenda dan masjid, kini direlokasi ke hunian sementara yang disiapkan pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman menuturkan, terdapat 57 kepala keluarga korban bencana pergerakan tanah dengan jumlah jiwa 253 jiwa. Semuanya kini suda direlokasi ke hunian sementara yang baru dibangun pemerintah.

“Kondisi pengungsian sebelumnya, seperti ruang kelas madrasah diniyah (MD), masjid dan tenda dirasa tidak layak jika ditempati dalam waktu yang cukup lama. Dengan begitu, pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui BPBD menyiapkan 57 Huntara di lokasi yang aman dari ancaman pergerakan tanah untuk dijadikan tempat tinggal sementara,” jelasnya kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), Selasa (15/5/2018).

Dalam jangka waktu dua tahun, pihaknya bakal terus memonitor perkembangan pergerakan tanah di Kampung Pasirjambu dan Pasirgerong, Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara ini. Dimana daerah ini sebelumnya yang merupakan daerah pemukiman warga yang direlokasi.

“Maksimal dua tahun mereka di Huntara ini. Jika pemukiman sebelumnya sudah dipastikan aman, mereka (korban, red) bakal kembali ke rumahnya masing-masing. Namun untuk saat ini, pemukiman sebelumnya itu masih rentan terjadi bencana,” terangnya.

Maman menyebutkan, di tanah 6.000 meter persegi milik pemerintah daerah ini, pihaknya membangun 57 rumah dengan fasilitas lainnya. Sedangkan, sumber pendanaan Huntara sendiri berasal dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp1,2 miliar.

“Kami bangunkan 57 rumah dengan fasilitas lainnya seperti MCK. Semoga saja Huntara ini dapat dirawat dengan baik oleh masyarakat dan dapat bermanfaat,” tukasnya.

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami meminta, kedepannya pemerintah setempat dapat mengidentifikasi wilayah yang bakal dijadikan pemukinan warga. Sehingga, kerawanan bencana seperti pergerakan tanah dan longsor dapat diidentifikasi sejak dini agar tidak membahayakan jiwa warga setempat.

“Huntara ini kami siapkan sebagai tempat tinggal sementara yang cukup layak bagi para korban bencana. Tetapi, pemerintah setempat juga seharusnya bisa mendeteksi secara dini tentang kondisi daerah yang bakal dijadikan hunian. Itu dilakukan agar tidak membahayakan nyawa masyarakat juga,” imbaunya.

Sementara itu, Uteng (65) warga yang direlokasi ke Huntara berterima kasih kepada pemerintah daerah atas Huntara yang disediakan. Meski begitu, dirinya bersama delapan anggota keluarganya terpaksa harus berhimpitan di Huntara.

“Pastinya Alhamdulilah, dibanding tempat pengungsian sebelumnya ini jauh lebih baik. Saat ini, anggota keluarga sembilan orang dan semuanya sekarang tinggal di Huntara. Jika soal cukup atau tidak kami akan paksakan saja, soalnya rumah sebelumnya masih bahaya bila kami tempati,” pungkasnya.

(radar sukabumi/Cr15)


loading...

Feeds