Petani Kota Sukabumi Disarankan Ikut Asuransi

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Banyak petani yang mengalami gagal panen di Kota Sukabumi, mendapat sorotan Pengamat Pertanian dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Renny Sukmawani.

Untuk mengantisipasi kerugian tanaman pertanian yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan hama, wanita berhijab yang juga Wakil Rektor I UMMI ini mengimbau para petani segera mengurus asuransi usaha tani padi milik mereka.

“Seharusnya petani padi mengasuransikan tanaman padi milik mereka, sehingga saat gagal panen akibat serangan hama bisa diminimalisir kerugiannya,”ujar Renny Sukmawani, Selasa (13/2/2018).

Semua petani harus terlebih dahulu bergabung dengan kelompok tani, jika ingin mendapatkan asuransi usaha tani padi (AUTP).

Dalam kelompok tani itu, petani kemudian akan diberikan bimbingan oleh para penyuluh pertanian lapangan (PPL). AUTP dapat memberikan jaminan terhadap kerusakan tanaman akibat banjir, kekeringan serta serangan hama dan penyakit tumbuhan atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

“Sehingga petani bisa memperoleh ganti rugi sebagai modal kerja untuk keberlangsungan usaha tani mereka,”terangnya.

Dengan adanya gagal panen, lanjut Renny, harga beras di pasaran akan terus naik.

“Sesuai hukum domain, barang banyak permintaan sedikit, bisa murah harga,” katanya.

Seperti kemarin yang terjadi, beberapa daerah sedang panen raya. Pemerintah melakukan impor beras dari luar negeri. Sehingga harga beras untuk konsumen turun, tetapi petani mengalami kerugian karena harga gabah jadi murah yang dijual petani.

“Kenapa sih petani gak dibiarkan merasakan harga jual hasil pertaniannya yang cukup tinggi, sebentar saja,”tanyanya.

Ia menyarankan agar para petani memilih varietas padi yang unggul, untuk menghadapi angin yang membuat rebahnya tanaman padi. Sehingga tanaman padi lebih kuat.

“Varietas unggul tersebut adalah anjuran dari pemerintah yaitu benih -benih yang bersertifi kat,”tuturnya.

Nah jika sawah petani terserang hama dan penyakit, masih bisa diantisipasi dengan pengendalian hama penyakit terpadu.

“Ya, supaya hama dan penyakit yang menyerang tanaman bisa ditekan,”ulasnya.
Renny juga menyikapi biaya produksi petani yang semakin tinggi. Lantaran pupuk dan obat-obatan yang harganya semakin tinggi. Apalagi banyak subsidi input yang dicabut oleh pemerintah.

“Sekarang ini banyak subsidi input yang dicabut, kalau misalkan seperti itu harusnya ada subsidi outputnya,”bebernya.

Lantas bagaimana tanggapan Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Kota Sukabumi? Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Kabid TPHP) DP2KP Kota Sukabumi Femmy mengakui jika saat ini banyak petani yang merugi akibat gagal panen yang dipengaruhi faktor cuaca ekstrem dan serangan hama penyakit.

Dirinya mengklaim, jika para petugas POPT setiap hari terjun ke lapangan untuk mengantisipasi adanya serangan hama dan penyakit pada padi. Ia juga terus mengajak petani agar mengasuransikan tanaman padinya.

“Banyak petani yang mengajukan asuransi karena gagal panen karena hama dan penyakit, mudahmudahan berikutnya cuaca membaik, petani bisa tenang dalam bercocok tanam,” singkatnya.

(radar sukabumi/Cr17)


loading...

Feeds

Tol-BORR

YLKI: Sebaiknya Tol BORR Jalan Terus!

Penghentian sementara pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIB menuai kritik banyak pihak. Pasalnya, moratorium dari Kementerian Pekerjaan …