Gara-gara Ini Petani Nanggeleng Sukabumui Gagal Panen

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Cuaca ekstrem membuat para petani di Kota Sukabumi berkeluh kesah. Sebab, sawah yang terus menurus diguyur hujan membuat mereka mengalami gagal panen.

Ditemui Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), Senin (12/2/2018), salah satu petani di Kelurahan Nanggeleng, Kota Sukabumi M. Muchtar mengungkapkan, cuaca ektrem seperti saat ini selain membuat gagal panen juga banyak hama dan penyakit yang terus menyerang tanaman padinya.

“Kalau penyakit yang menyerang tanaman padi saya itu seperti blast, bercak daun, kresek dan busuk pelepah daun,”kata Muchtar.

Sedangkan hama yang menyerang lahan garapan pria 66 tahun itu adalah tikus, penggerek batang padi dan Walang Sangit. Masih kata Muchtar, selain hama dan penyakit, faktor lain yang menyebabkan padinya rusak adalah angin kencang.
“Akhir-akhir ini banyak tanaman padi yang tumbang, karena ya angin kencang tadi, akibatnya padi hanya bisa kami panen separonya saja dari luas lahan,”bebernya.

Lahan yang digarap oleh Muchtar seluas 2,7 hektar, berada di Jalan Pelda Suryanta, Kota Sukabumi. Akibat cuaca ekstrem ditambah serangan hama, membuatnya merugi. Hasil panennya anjlok, tidak sampai setengahnya.

“Padi yang biasanya dipanen dari lahan itu tidak kurang dari 15 ton lebih gabah padi. Tapi sekarang ini, hanya bisa menghasilkan sekitar 6 ton saja,”kesalnya.

Muchtar pun mengaku sangat rugi akibat kejadian tersebut.

“Kita sebagai petani sangat rugi, belum biaya pemeliharaan untuk beli obat dan pupuk yang terus mahal,” bebernya.

Dijelaskan Muchtar, pupuk dan obat-obatan untuk tanaman padi dari waktu ke waktu harganya terus naik. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan hasil semakin menurun drastis.

“Bertani sekarang mah, biaya produksi tinggi dan hasil panen semakin rendah,” ujarnya.

Dirinya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi melalui dinas terkait, lebih memperhatikan kondisi para petani. Terutama tentang harga pupuk dan obat-obatan untuk bertani yang harganya makin mahal.

“Supaya petani ini tidak selalu rugi, akibat harga pupuk dan obat-obat yang semakin mahal,”terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi, Kardina Karsoedi mengatakan, pada Februari, Maret dan April, hasil panen diperkirakan tidak maksimal.

Dikarenakan faktor alam yang sering hujan. Sehingga proses pembuahan di malam hari tidak optimal.

“Cuaca ekstrem ini insya Allah kemarin telah diantisipasi, khususnya untuk serangan hama dan penyakit, mudah-mudahan tidak terjadi puso, sejauh ini petugas POPT selalu melaksanakan pemantauan dan mitigasi,” tandasnya.

(radar sukabumi/Cr17)


loading...

Feeds