Pasca Gerhana Bulan Super Blue Blood Moon, Ada ‘Harta Karun’ di Pantai Palabuhanratu?

GELOMBANG SURUT: Agus (40) warga Kampung Babadan, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu menunjukkan pernak pernik berupa gelang, cincin dan uang logam zaman dulu (insert).  Sementara itu sejumlah warga nampak saat mencari 'harta karun' di Teluk Palabuhanratu.

GELOMBANG SURUT: Agus (40) warga Kampung Babadan, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu menunjukkan pernak pernik berupa gelang, cincin dan uang logam zaman dulu (insert). Sementara itu sejumlah warga nampak saat mencari 'harta karun' di Teluk Palabuhanratu.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Musim sulit uang dan sulit melaut kadang membuat pola fikir warga menjadi aneh.

Seperti sejumlah warga Kampung Babadan, RW 30 dan Kampung Kidangkencana, RW 28 yang nekad menyelam di laut Pantai Palabuhanratu hanya untuk mencari pernak pernik jadul hingga emas.

Kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), mereka menyebutnya ‘harta karun.’

Menjelang hingga pasca fenomena alam super blue blood moon, gelombang di Pantai Selatan, tepatnya di Teluk Palabuhanratu terjadi pasang surut.

Situasi ini dimanfaatkan puluhan warga Kampung Babadan RW 30 dan Kampung Kidangkencana RW 28 untuk mencari rezeki di Pantai Karang Deet, Teluk Palabuhanratu.

Tak sedikit para pencari ‘harta karun’ itu tak menggunakan alat apapun. Mereka mengandalkan tangan kosong untuk mencari pernak pernik barang antik.

Seperti timah, kuningan, uang logam zaman dulu hingga perak dan emas. Bukan hanya orang dewasa, mencari barang antik ini juga diikuti anak-anak.

Sebagian pembaca mungkin akan menilai penulis melakukan pembodohan kepada pembaca atau menyampaikan berita hoax. Namun faktanya, sejumlah pencari ‘harta karun’ itu ada yang berhasil. Seperti Agus (40), warga Kampung Babadan, RT 2/30, Kelurahan/ Kecamatan Palabuhanratu. Ia mengaku pernah mendapatkan emas berupa kalung seberat 25 gram.

“Alhamdulillah pernah nemu emas 25 gram seharga Rp11 juta. Paling banyak sih nemu uang logam zaman dulu,” kata Agus sambil menunjukkan pernak pernik hasil temuannya.

Menurut Agus, ‘harta karun’ yang ditemukannya diduga bukanlah peninggalan orang Belanda atau kerajaan.

Tetapi barangbarang itu yang hilang dari wisatawan saat bermain ombak dan berenang.

“Sejak dulu pantai ini tempat bermain masyarakat lokal dan luar daerah. Mungkin saat berenang mereka membuka perhiasannya dan hilang,” kata Agus.

Begitupun yang disampaikan Asep (38), warga Kampung Kidangkencana, RT 2/28, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu itu masih penasaran mencari barang barang antik di pantai. Pantauan Radar Sukabumi, Asep dan warga lainnya hanya menemukan uang logam zaman dulu, perak, tembaga dan kuningan.

“Kalau barang antik paling buat koleksi. Tapi kalau ada yang minat beli,
ya saya jual,” ucapnya.

Barang-barang antik hingga emas itu muncul pasca cuaca ekstrim hingga menimbulkan gelombang pasang. Sebelumnya warga tak ada yang menemukan barang-barang itu. Ia menduga, barang-barang itu timbul terkikis arus dan ombak.

Sehingga, barang pengunjung yang hilang akibat terimbun pasir itu ikut timbul dengan jumlah banyak.

“Ya dari pada menganggur mending mencari harta karun. Alhamdulillah saya juga nemu perak, kuningan dan uang logam zaman dulu,” imbuhnya.

(radar sukabumi/PERLI RIJAL)


loading...

Feeds

Harkitnas

Pemkot Bekasi Peringati Harkitnas 2018

PENJABAT (Pj) Wali Kota Bekasi Ruddy Gandakusumah menjadi Inspektur Upacara Hari Kebangkitan Nasional Ke-110 tahun 2018, Senin, (21/5/2018) di Alun-Alun …