Pemkab Sukabumi Masih Kewalahan Hadapi Spekulan Padi

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Pemerintah Kabupaten Sukabumi nampaknya masih kewalahan menghadapi spekulan padi. Faktanya, saat kelangkaan beras yang berdampak pada harga, pemerintah tidak memiliki persediaan yang bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

Aep (50), petani asal Kecamatan Gunungguruh mengaku lebih memilih menjual gabah kepada tengkulak karena harga beli yang lebih tinggi dibanding pada Badan Logistik (Bulog) dan cara penjualan praktis.

“Kalo gabah setiap panen, saya langsung jual saja ke tengkulak, mereka mau langsung ngambil di sawah gabahnya. Dari harga juga berbeda dengan harga yang tawarkan pemerintah,” akunya kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), Kamis (11/1/2018).

Selain itu, ada juga kelebihan dari para spekulan, yakni mau memberikan modal tanam kepada para petani. Sehingga, saat panen tiba gabah padi otomatis dibeli oleh para spekulan.

“Ada juga tengkulak yang ngasih modal buat petani menanam, kalo kami bagaimana harga yang ditawarkan saja,” ujarnya.

Disinggung soal harga beras dalam waktu ini terus melonjak, Abah Aep sapaan akrabnya menilai hal itu wajar. Karena saat ini musim panen belum tiba, juga gabah dengan kualitas premium kebanyakan diangkut ke daerah lain.

“Kalau abah pribadi setiap panen menyisihkan stok gabah kering untuk konsumsi di rumah. Jadi jika langka dan mahal tidak terlalu kerepotan,” tukasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi, Asep Hikmat mengaku, beras premium dari Sukabumi tidak sedikit yang dijual ke daerah lain karena alesan harga. Selain itu, Pemerintah saat ini masih kekurangan gudang untuk menampung hasil penen para petani.

“Gabah dari Sukabumi seringkali dibawa ke luar daerah karena gudang sendiri tidak mencukupi untuk penyimpanan gabah. Rencananya DKP akan membuat gudang di Palabuhanratu, Sagaranten dan Jampangkulon,” tambahnya.

Adapun fluktuasi harga beras saat ini di pasaran, lanjut Asep, dikarenakan faktor ketidak stabilan hasil panen. Selain itu, panen raya akan tiba dua bulan mendatang sehingga terjadi lonjakan harga.

“Kami dengan stakeholder lainnya melakukan operasi pasar untuk menekan harga dan berusaha memenuhi kebutuhan. Dari aspek pemberdayaan, DKP juga membina kelompok tani agar menajdi unit bisnis melalui pengolahan gabah menjadi beras,” pungkasnya.

(radar sukabumi/cr15)


loading...

Feeds