Waspada Peredaran Beras Berpemutih di Sukabumi, PPNS Uji Laboratorim

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Petugas Penyelidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kabupaten Sukabumi melakukan uji laboratorium terhadap enam varietas beras yang beredar di sejumlah pasar tradisional di wilayah Utara Sukabumi.

Keenam varietas beras tersebut terdiri dari beras kualitas lokal dan dua varietas lainnya berasal dari beras yang dijual dalam bentuk kemasan antara lain kualitas mediam dan kualitas premium.

Menurut Petugas PPNS Kabupaten Sukabumi Iwan Wiriawan uji laboratorium terhadap enam varietas beras tersebut merupakan tindak-lanjut dari kegiatan pengawasan terhadap barang beredar di pasaran.

Kegiatan itu digelar sejak sepekan terakhir, salah satunya adalah Pasar Cibadak.

“Uji laboratorium terhadap enam varietas beras ini bertujuan untuk mengetahui kadar klorin serta kadar air yang terkendaung pada beras-beras tersebut. Seperti diketahui klorin itu kerap digunakan sebagai salah satu bahan kimia pada pemutih pakaian,” jelas Iwan kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar).

Sejauh ini, lanjut Iwan, pihaknya belum bisa memastikan apakah beras-beras yang beredar di pasaran di wilayah Sukabumi ini mengandung klorin atau tidak. Untuk memastikan hal tersebut, PPNS akan terlebih dahulu menunggu hasil pengujian laboratorium.

Kandungan klorin yang kerap ditemukan pada bulir beras, biasanya digunakan oleh para pengusaha saat proses penggilingan gabah dilakukan. Tujuan dari penggunaan kimia tersebut adalah untuk memutihkan warna bulir beras sehingga akan mendongkrak nilai jual, semula hanya berkualitas rendah namun setelah tampil putih maka akan menyerupai beras kualitas premium.

“Jika beras berpemutih ini dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka akan berbahay bagi kesehatan manusia. Sebab bisa menimbulkan penyakit yang mematikan,” ujarnya.

Jika terbukti beras-beras yang menjadi sample uji laboratorium itu twerbukti mengandung bahan berbahaya, maka pihaknya akan menindak tegas para pedagang. Termasuk melakukan penelusuran hingga ke tingkat penggilingan serta pengemasan beras.

Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Kementrian Perdagangan (Permendag) Nomor 57 tentang harga eceran tertinggi beras. Pelanggaran lainnya atas penggunaan kimia berbahaya adalah undang-undang perlindungan konsumen.

(radar sukabumi/ton)


loading...

Feeds