Lihat… Ratusan Rumah di Bojongsawah Sukabumi Sangat Memprihatinkan

Ilustrasi rumah kumuh

Ilustrasi rumah kumuh

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Sebanyak 122 rumah di Desa Bojongsawah, Kecamatan Kebonpedes, dinilai tak layak huni dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.

Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lokasi, mayoritas kondisi rumah yang berukuran lima kali enam meter ini sangat memprihatinkan.

Tampak genting yang bocor dan dinding serta atap yang terbuat dari anyaman bambu juga banyak yang terkelupas akibat dimakan usia.

“Kondisi rumah warga yang memprihatinkan sudah kami usulkan pada pemerintah baik pada Kemenprera, Permerintah Provinsi hingga Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Sosial. Alhamdulillah pada tahun 2015 kami mendapatkan bantunan sebanyak 21 rumah dari program Kemenpera,” kata Kepala Desa Bojongsawah Abun Bunyamin saat di sambangi Radar Sukabumi di ruang kerjanya, belum lama ini.

Di Desa Bojongsawah tutur Abun, memiliki luas tanah sekitar 420 hektare dengan jumlah jiwa sebanyak 7560 jiwa dan 2228 Kepala Keluarga (KK).

“Desa Bojongsawah ini, memiliki empat kedusunan, diantaranya, Kedusunan Bojongsawah, Cipari, Pamoyanan dan Dusun Awilega. Dari empat kedusunan ini, semua ada rutilahunya. Namun, mayoritas mereka dari kalangan panti jompo dan janda,” tandasnya.

Pihaknya mendapatkan kendala sambung Abun, ketika mengajukan program Rutilahu untuk kesejahtraan warganya.

“Program Rutilahu tahun ini, susah mengajukannya karena harus memiliki bukti kartu keluarga sejahtera (KKS). Padahal faktanya tidak semua masyarakat yang Rutilahu memiliki KKS. Apalagi sekarang kita hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah daerah yakni, dari Dinas Sosial sebesar Rp4 juta pertahunnya. Ya, itu pun hanya satu rumah per desanya,” paparnya.

Sementara itu, salah seorang warga Kampung Bencoy RT 2/2 Desa Bojongsawah, Uum (55) menjelaskan, ia yang tinggal bertahun-tahun di rumah yang berukuran sekitar lima kali enam meter ini tinggal dengan istri dan dua orang anak.

“Saat hujan lebat air banyak masuk ke rumah. Selain gentingnya bocor juga dinding nya banyak yang bolong, sehingga angin pun masuk tanpa pembatas, “lirihnya.

Pihkanya tidak bisa berbuat banyak, penghasilannya yang bekerja sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk makan keluarganya sehari-hari.

“Untuk makan saja saya sudah bersyukur. Saya hanya bekerja di ladang apabila tetangga membtuhkan kerjaan, kalau tidak ada kerjaan saya paling mencari kayu bakar di hutan dan menjualnyya ke tetangga,” singkat Uum.

(cr13)



loading...

Feeds