Gapura Ini Minta Dibongkar

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Adanya gapura di Jalan Nasional Pertigaan Cikembang tak memberikan dampak positif bagi pengguna jalan. Keberadaan gerbang dua pintu itu tak jelas bahkan dirasa menghambat arus lalu lintas. Baik wisatawan maupun aktivitas masyarakat. Sejumlah pengguna jalan pun berharap, bangunan yang sudah dibangun 15 tahun silam itu segera dibongkar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kontraktor Seluruh Indonesia (APAKSINDO) Kabupaten Sukabumi, Endang Aris mengungkapkan, dengan adanya bangunan gapura itu sama saja dengan menghambat pengguna jalan yang masuk ke Ibu Kota Sukabumi. Pasalnya, tak sedikit seperti kendaraan besar mengambil jalur lain.

“Jalan nasional satu-satunya yang diportal di dunia adalah jalan nasional di Cikembang arah Palabuhanratu,” ungkap Endang, kemarin (12/4).

Dikatakan Endang, sudah seharusnya portal tersebut dibongkar. Adapun alasan untuk meminimalisir tingkat kerusakan jalan dikarenakan daya muat yang over kapasitas, tinggal ada upaya dari penyelenggara teknis pemerintah untuk meningkatkan mutu standarisasi jalan nasional tersebut.

“Bangunan tersebut salah satu faktor penyekat laju pembangunan di wilayah selatan. Sudah saatnya bangunan itu dibongkar,” desaknya.

Menurut Endang, segala bentuk pembangunan di wilayah Sukabumi Selatan itu dinilai selamanya akan menjadi terhambat, jika saja portal yang berdiri di depan Terminal Cikembang tersebut, masih seperti itu.

Adapun solusinya, pemerintah dapat membangun standar jalan nasional dengan jalan yang memiliki lebar badan jalan 18 meter dengan ketebalan tinggi jalan 20 cm.

“Jika alasan dibangunnya gapura atau portal itu untuk memelihara jalan lebih awet, bukan itu solusinya. Pemerintah tinggal membangun jalan yang sesuai standar. Karena, meskipun ada gapura itu tetap saja kendaraan besar bisa milintas lewat Terminal Cikembar,” sarannya.

Sementara itu, menyikapi persoalan ini, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kabupaten Sukabumi, Thendy Hendrayana tak dapat memberikan komentar. Ia malah mengalihkan wartawan koran ini untuk menghubungi stafnya. Padahal, secara struktural, seharusnya ia mengetahui dan memberikan penjelasan masalah ini.

“Silakan menghubungi staf saya, namanya Pak Endang Badri. Terima kasih,” singkatnya.
Wartawan koran ini pun langsung konfirmasi kepada Endang Badri, namun hingga berita ini ditulis, konfirmasi belum juga ditanggapi. (lan/dep)

Feeds