Butuh Rp300 Juta Perbaiki Alat Kesenian

Kesenian Dogdog Lojor, Sukabumi

Kesenian Dogdog Lojor, Sukabumi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Sebagian besar alat kesenian di Kampung Adat Kasepuhan Sinaresmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok mulai rusak. Hal tersebut, dikhawatirkan akan mengancam punahnya kesenian yang merupakan warisan turun temurun.

Perlengkapan alat kesenian tersebut seperti wayang, jipang dan dogdog lojor. Untuk membenahi tesebut, perlu adanya campur tangan pemerintah. Sebab, kesenian tersebut merupakan bagian dari khazanah budaya asli Sunda yang selama puluhan tahun kerap dipagelarkan dalam berbagai acara resmi pemerintah, ritual adat, dan pagelaran budaya.

Anak-anak dan para remaja di kampung adat Kasepuhan Sinaresmi secara perlahan mulai tak tertarik untuk belajar memainkan tiga alat kesenian
tersebut.

Tutunggul Kasepuhan Sinaresmi, Abah Asep Nugraha mengaku prihatin, orang yang bisa memainkan tiga alat kesenian yang melegenda itu kini tak lebih dari 50 orang. Itu pun, usia para pelaku seninya di atas 50 tahun.

“Jika minat para generasi muda terus terkikis dan peralatan yang kini tinggal alakadarnya tak diremajakan, kesenian ini bisa punah,” kata Abah Asep, saat ditemui Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id) di Imah Gede Kasepuhan Sinaresmi, kemarin (8/4).

Pria berambut panjang dan berikat kepala itu menambahkan, salah satu cara untuk meregenerasi para pemain dan penerus kesenian tersebut yakni, dengan merevitalisasi alat yang sudah rusak.

“Untuk merevitalisasi tersebut membutuhkan dana yang sangat besar, oleh karena itu peran pemerintah sangat penting,” ucapnya.

Sebab, lanjut Abah Asep, untuk wayang saja membutuhkan dana minimal Rp120juta. Itupun jika harga di kisaran Rp1 juta per wayang. Sedangkan untuk dogdog lojor dan Jipang tak jauh berbeda harganya dengan wayang.

“Kalau ada dana revitalisasi sebesar Rp300 juta sih bisa leluasa dalam perbaikan alat kesenian,” sebutnya.

Dulu, kata Abah Asep, ada rencana bantuan sebesar Rp150 juta dari kementerian, namun tidak cukup untuk merevitalisasi semua alat kesenian.

“Tapi anggaran itu, sampai sekarang juga belum turun,” bebernya.

Padahal, kata Abah Asep, apabila revitalisasi itu dilakukan, para generasi penerus di kampung tersebut bisa dididik untuk menjadi penerus. Atau melakukan kerja sama dengan sekolah agar dijadikan muatan lokal di setiap sekolah yang dekat dengan kampung adat.
“Yang terpenting saat ini mengenai revitalisasi sehingga bisa melatih anak didik untuk meneruskan kesenian,” paparnya.

Sementara itu, Camat Cisolok, Arif Solihin men-gatakan, selalu mendukung dan membantu semaksimal mungkin agar kesenian di Kampung Adat Banten Kidul tidak punah. Makanya, pihaknya menggelar festival budaya Cisolok beberapa waktu lalu sebagai tujuan untuk menjaga kelestarian budaya.

“Dalam waktu dekat ini, saya berharap seni budaya ini menjadi muatan lokal di sekolah. Hal ini sebagai wujud kecintaan kita kepada budaya lokal,” terangnya. (lan/dep)

Feeds