Seperti Ini Aksi Intelijen dan Wartawan Gadungan Peras Tukang Bakso

Ilustrasi Pungli

Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUAKABUMI – Maraknya isu bakso celeng dimanfaatkan oleh Rahmat Tole (40), Heri Kusmiran (40) yang berstatus sebagai wartawan mingguan dari majalah Tipikor, dan Risnandar Saepulloh (41) mengaku sebagai anggota intelijen Lidik Krimsus RI untuk memeras tukang bakso yang jelas-jelas tidak menggunakan daging babi hutan.

Kapolres Sukabumi Kota AKBP Diki Budiman membenarkan hal tersebut. “Awalnya salah satu yang mengaku wartawan bernama Heri ini datang untuk membeli bakso di kedai milik Giyatman, lalu keesokan harinya tersangka atas nama Risnandar Saepulloh datang bersama dua orang tersangka lain yaitu Rahmat Tole dan Heri Kusmiran, dan tiga orang yang masih buron mengaku sebagai anggota intel dari Jabar dan wartawan untuk menggeledah rumah korban dengan menuduh korban menjual bakso celeng,” ungkap AKBP Diki Budiman.

Namun, masih kata Diki yang ditemui saat ekspos di Polres Sukabumi Kota kemarin (7/4), pada saat penggeledahan ketiga tersangka malah mengambil uang milik korban yang disimpan di dalam brankas sebesar Rp46 juta. “Pelaku dengan beberapa tersangka lainnya masih dalam peroses penyelidikan,” tuturnya.

Untuk memuluskan aksinya, para pelaku berpura-pura mengaku anggota Krimsus Polda Jabar yang sedang menyelidiki penjualan daging celeng, yang selanjutnya mereka meminta sejumlah uang jika perkara tersebut tidak mau dilanjutkan.

“Tidak puas dengan hasil rampasannya itu, ketiga tersangka kembali meminta uang Rp11 juta kepada korban. Tersangka juga meminta lagi uang sebesar Rp3 juta agar tidak disebarkan di media massa. Karena curiga dengan ulah tersangka dan komplotannya, korban pun melapor ke kami,” bebernya.

Namun menurut Diki, korban sendiri tidak terbukti menjual bakso celeng. Hal ini diperkuat setelah adanya hasil lab yang dilakukan Polres Sukabumi Kota terhadap bakso yang dijual Giyatman.

“Kita lakukan tes uji lab, dan hasilnya memang negatif,” terangnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Sukabumi Kota masih memburu tiga pelaku lainnya yang juga ikut melakukan penggeledahan dan pemerasan terhadap korban. Salah seorang dari tiga pelaku yang sudah ditangkap masih belum terbuka, dan belum memberikan nama-nama pelaku lainnya. Hanya saja keterangan korban saat penggeledahan dilakukan lima orang berbeda.

“Korban sebelumnya sempat digeledah oleh para pelaku yang mengaku dari intel Polda dan oknum wartawan yang masih satu komplotan wartawan mingguan ini,” tegasnya.

Dari hasil penangkapan, polisi berhasil mengamankan barang bukti uang tunai sebesar Rp60 juta, satu buah kartu pengenal bertuliskan ‘Divisi Intelijen dan Investigasi Kota Kabupaten Sukabumi Lidik Krimsus RI, Swadarma Bakti Negara Berani Untuk Benar’ atas nama Risnandar Saepulloh alias enay (Ketua Divisi Intelijen dan investigasi News). Sebuah handphone Samsung flip warna putih, satu lembar kuitansi sebesar Rp2 juta, dan satu lembar kuitansi sebesar Rp9 juta.

“Kini Ketiganya dikenakan Pasal 368 junto Pasal 369 tentang Pemerasan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara,” tegas Diki. Sementara itu, tersangka bernama Tole mengaku, penggeledahan tersebut berdasarkan dugaan teman-temannya. Di hadapan sejumlah awak media, Tole mengaku memanfaatkan kasus peredaran daging celeng di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota untuk melakukan pemerasan terhadap pedagang bakso. (wdy/dep )

Feeds

WARGA MENOLAK SSA : Spanduk penolakan Sistem Satu Arah (SSA) yang mengatasnamakan Forum RW dan LPM Kelurahan Depok Jaya terpasang di sisi Jalan Nusantara Raya, kemarin malam. Foto : Ahmad Fachry/Radar Depok

Warga Depok Jaya Tolak Sistem Satu Arah

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sistem satu arah (SSA) yang diujicoba Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, mulai diprotes. Keladinya, jalan searah tersebut dinilai …