Tak Digaji, TKW Sukabumi Pulang dengan Keadaan Buta

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Nasib malang kembali menimpa Tenaga Kerja Wanita (TKW) Sukabumi. Keadaan ini menimpa, Wawat Rahmawati (42), warga Kampung Babakan Garung RT 05/06 Kelurahan Karangtengah Kecamatan Gunungpuyuh Kota Sukabumi, yang diduga menjadi korban trafficking.

Dia dipekerjakan di Johor Malaysia tanpa diberi upah. Ketika pulang ke kampung halaman, Wawat malah menjadi buta.

Ibu dua orang anak ini berangkat menjadi TKI pada tahun 2009 melalui salah seorang yang baru dikenalnya berinisial Toni di Condet, Jakarta Timur. “Saat itu, ia mengaku sebagai karyawan sponsor di salah satu agen TKI di Batam Kepulauan Riau (Kepri) yang sedang mencari pekerja untuk dikerjakan di Brunei Darussalam sebagai penjaga toko, dengan iming-iming upah setiap bulannya 450 ringgit,” ungkap Wawat, kemarin (6/4).

Karena didesak kebutuhan dan tergoda upah yang besar, Wawat akhirnya menerima tawaran Toni meski berangkat ke negara tetangga melalui jalur ilegal. Akan tetapi saat di Malaysia, bukannya dibawa ke Brunei, ibu dua anak ini malah dibawa ke Johor untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT). “Selama dua bulan setengah tanpa diberi upah,” ungkapnya.

Sadar menjadi korban trafficking, Wawat memutuskan kabur dan bekerja serabutan mulai dari bekerja sebagai tukang bangunan sejak 2012 hingga 2013, dan menjadi tukang masak di sebuah kantin sekolah dasar (SD) di Taman Segar, Kuala Lumpur. Saat bekerja di kantin, Wawat mulai merasakan sakit di matanya.

Penyakit di matanya semakin bertambah parah. Dalam kondisi demikian, beruntung, ia dibantu temannya sesama TKI untuk melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia dan dibuatkan surat perjalanan laksana paspor (SPLP). Wawat akhirnya dipulangkan ke tanah air dengan mendapatkan bantuan dari Migrant Care.

“Awalnya mata saya cuman merah saja, kaya kena iritasi, terus sempat dibawa ke dokter karena sepuluh hari mata saya enggak sembuh-sembuh, dan dikasih obat seperti salep. Pas saya coba, mata saya bukannya sembuh malah jadi tidak bisa melihat sampai sekarang. Saya baru pulang Minggu 29 Maret kemarin. Sekarang tidak bisa ke mana-mana lagi, aktivitas juga dibantu oleh ibu saya karena kedua mata saya tidak bisa melihat,” terangnya.

Saat ini, Wawat sedang menjalani pengobatan alternatif di pesantren Al Fath, Gunungpuyuh. Meski begitu, ia berharap pemerintah bisa membantu meringankan biaya untuk pengobatannya.

“Saya berharap bisa diperiksa di dokter biar saya tahu saya sakit apa,” imbuhnya.

Keadaan yang dialaminya dijadikan pelajaran baginya. Ia berharap masyarakat lebih berhati-hati dan teliti saat memilih sponsor agar tidak menjadi korban trafficking.

“Cukup saya saja yang menjadi korban, sebaiknya bagi warga yang ingin berangkat menjadi TKI jangan mudah tergiur walaupun gajinya besar. Mendingan berangkat melalui agen resmi saja yang sudah bekerja sama dengan pemerintah,” pungkasnya. (wdy/dep)

Feeds