Digitalisasi Dokumen Belum Berjalan, Begini Alasannya

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, TASIKMALAYA– Digitalisasi dokumen kearsipan di Kota Tasikmalaya belum berjalan. Padahal konversi arsip konvensional menjadi digital dinilai penting agar berkas-berkas dokumen pemerintah bisa tersimpan lebih aman dan tertata lebih rapi.

Disdukcapil Kabupaten Bogor : Pelayanan Kependudukan Dokumen Catatan Sipil dan Pendaftaran Penduduk dalam Rangka Tertib Administrasi

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tasikmalaya, Oslan Khaerul Falah mengatakan belum terlaksananya digitalisasi disebabkan belum tersedianya teknologi konversi yang digunakan. Keterbatasan anggaran menjadi faktor utama ganjalan tersebut.

“Digitalisasi sampai saat ini belum kita lakukan karena memang anggarannya sangat terbatas. Untuk membeli alatnya cukup mahal dan idealnya diperlukan Depo Arsip khusus supaya nanti lebih tertata,” kata Oslan, Jumat (11/5).

Dia menuturkan dokumen kearsipan negara sangat penting untuk dipelihara, hal ini mengingat arsip terbilang krusial sebagai basis data, informasi, bahkan fakta.

PDAM Tirta Pakuan Dukung Kota Bogor Jadi Smart City, Caranya..

“Jika terdapat persoalan hukum yang menjerat, arsip bisa dijadikan sebagai alat bukti,” paparnya.

Dokumen arsip juga merupakan landasan otentik bagi akuntabilitas pelaksanaan tugas sebuah instansi. Jika instansi-instansi pemerintahan tidak memelihara arsip dengan baik, kredibilitas dan kinerja mereka bakal dinilai buruk dan menimbulkan opini negatif.

Digitalisasi dokumen, selain memudahkan perkara administratif kedinasan, juga bermanfaat bagi publik yang hendak mengakses dokumen secara daring.

Aplikasi Smart, Ubah Perilaku Pegawai BPPT-PM Kota Bogor
Terdapat dua jenis arsip secara umum, yakni arsip statis dan arsip dinamis yang dimiliki seluruh OPD. Arsip yang bisa diakses publik, menurut Oslan ialah arsip statis. Sementara arsip dinamis tak bisa sembarangan diakses.

“Cara membukanya ada sistem klasifikasi dan akses arsip. Yang dikecualikan misalnya personal file pegawai, arsip kedisiplinan menyangkut nama baik, arsip yang bersifat keamanan, objek vital. Kalau rahasia negara yang sangat sensitif saya kira tidak bisa secara sangat terbuka. Kecuali orang tertentu,” katanya.

Selain pengarsipan digital, Oslan menambahkan pengarsipan dokumen secara konvensional juga masih jauh dari harapan. Kesadaran akan pentingnya pengarsipan disebut masih rendah di lingkungan organisasi perangkat daerah.

Heboh, Pemusnahan Skripsi dan Tesis Masih Pro dan Kontra

(jar/rmol/pojokjabar)


loading...

Feeds