Film G30 S/PKI Akan Diputar di Seluruh Koramil, Bolehkah Anak-anak Menonton?

ilustrasi anak-anak berburu om telolet om

ilustrasi anak-anak berburu om telolet om

POJOKJABAR.com, SUBANG – Panglima Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menginstruksikan seluruh prajuritnya untuk menggelar nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI.

Instruksi yang ditujukan untuk seluruh jajaran TNI AD di daerah ini menyebar lewat pesan singkat.

Di Kabupaten Subang, film tersebut akan diputar di Markas Kodim 0605 Subang dan seluruh Koramil.

Dandim 0605 Subang, Letkol Inf Fikri Ferdian mengatakan pemutaran film akan dilakukan serentak pada pukul 19.00 WIB pada tanggal 30 September 2017.

“Ini merupakan intruksi dari Panglima TNI. Kita harus menghentikan bahaya laten komunis. Maka harus ada pembinaan dan wawasan kebangsaan terhadap seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, instruksi Panglima TNI untuk menayangkan film penghianatan G 30S/PKI kepada anggota TNI ditanggapi oleh pemerhati anak.

Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Subang meminta anak-anak tidak menonton film tersebut karena mengandung adegan kekerasan.

KPAD Subang mengimbau orang tua untuk tidak membiarkan anaknya menyaksikan film penghiantan G30S/PKI.

“Salah satunya saat para perwira militer diculik dari rumahnya,” kata komisioner bidang sosialisasi KPAD Subang, Jaka Septya Arizona.

KPAD menjelaskan, adegan ditembaknya Jenderal Ahmad Yani oleh pasukan Tjakrabirawa hingga darah yang menetes dari tubuh Ade Irma Nasution, termasuk adegan saat anggota Gerwani menyilet salah satu wajah korban, adegan kekerasan baik fisik maupun verbal, apalagi adegan pembunuhan, akan menimbulkan trauma buruk pada anak-anak.

“Hal ini membahayakan kondisi psikologis anak-anak. Selain itu, dalam film tersebut banyak diksi yang juga mengandung kekerasan,” katanya.

Ada lagi kekerasan verbal dengan pernyataan ‘darahmu halal jenderal’, dan diksi lain yang kemungkinan besar tidak dipahami anak-anak.

Mengenai penayangan film tersebut, KPAD mendukung untuk tidak melupakan sejarah, namun Film sejarah yang membangkitkan rasa nasionalisme dan menstimulus cara berpikir kritis pada anak-anak.

“Banyak cara menyampaikan sejarah kepada anak-anak tanpa harus menunjukan cara-cara kekerasan yang dapat mempengaruhi psikologi anak,” jelasnya.

(ysp/tra/pojokjabar)



loading...

Feeds