Sembilan Siswa Absen UN

Ujian Nasional

Ujian Nasional

POJOKSATU.id,CIREBON-Dari 7.739 siswa kelas XII SMA sederajat di Kota Cirebon yang mengikuti Ujian Nasional (UN), sembilan di antaranya absen. Dari sembilan siswa yang tidak ikut UN, empat di antaranya sakit, tiga lainnya tanpa keterangan, satu orang menikah dan satunya mengundurkan diri.

Kepala Disdik Kota Cirebon, Wahyo mengatakan, mereka yang melaksanakan UN di lapas maupun rumah sakit harus ada permohonan dari orang tua dan rekomendasi dari rumah sakit dan lapas. “Setelah itu ditempuh semua, baru bisa mengikuti UN. Sementara yang mengawasi UN sendiri berasal dari lapas dan rumah sakit di mana siswa itu berada,” terang Wahyo.

Dikatakan Wahyo, menurut menteri pendidikan tidak ada UN online, yang ada adalah ujian berbasis komputer. Kendati demikian, pihaknya berharap pelaksaan UN berbasis komputer dapat diterapkan tahun depan. “Untuk saat ini Kota Cirebon belum bisa menerapkan UN. Tapi, diharapkan nilai siswa siswi kelas XII SMA dan sederajat yang ikut UN mendapatkan yang terbaik,” ucapnya.

Sekolah yang siswanya mengikuti UN gabung dengan sekolah lain, kata Wahyo, akan menjadi kajian lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan apakah di-marger atau tidak. Sebab, sekolah yang siswanya di bawah 20 orang itu, ibarat hidup enggan mati tak mau. “Ya nanti akan kita kaji,” tuturnya.

Sementara Walikota Cirebon, Nasrudin Azis bersama forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) didampingi Kabag Keuangan Kemendikbud, Neneng Tresnaningsih melakukan monitoring di lima sekolah di antaranya, SMA Santa Maria, SMAN 8 Kota Cirebon, SMAN 8 Kota Cirebon, SMK Gracika dan yang terakhir di MAN 3 Cirebon.

Dari hasil monitoring tidak ditemukan masalah di lapangan. “Tidak ada kendala satupun, walaupun ada dua sekolah seperti SMA Gracika dan SMAN 7 Cirebon yang kita monitoring secara mendadak. Tapi, ketika kita temukan masalah tentunya akan ditindaklanjuti. Karena monitoring ini tidak dilakukan hari ini saja,” ucapnya.

Kapolres Kota Cirebon AKBP Dani Kustoni mengatakan, pengawasan UN tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Sebab, di lapangan pihaknya tidak menemukan pelajar SMA dan sederajat mencari jawaban soal UN. “Tahun lalu pernah terjadi jawaban UN yang diperjualbelikan dengan harga Rp20-40 jutaan. Tapi, Alhamdulillah tahun sekarang kejadian semacam itu tidak ditemukan di lapangan,” singkatnya. (mik/sam/ysf/yaz)

Feeds