Buku Pelajaran Perintah Membunuh Beredar di Sekolah

Buku Radikalisme

Salah satu buku pelajaran yang di dalamnya mengajarkan kekerasan. | FOTO: Raka

 

POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Buku pelajaran perintah membunuh masih beredar di sekolah. Hal itu membuat tokoh masyarakat dan agama di Purwakarta resah.

Praktisi pendidikan di Purwakarta, Surya Hadi Dharma, mendesak Pemerintah Kabupaten Purwakarta segera menarik buku Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas XI tersebut. Menurut dia, terlalu berbahaya jika peredaran buku ini tidak dicegah sejak ini.

“Perlu segera ditarik peredarannya. Berbahaya jika dibiarkan,” kata Surya.

Sebelumnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi berjanji segera mengeluarkan Keputusan bupati untuk membentuk tim verifikasi pelacak buku berpesan serupa di Purwakarta. Dalam halaman 170 buku itu bertuliskan “Jika tidak menyembah Allah, maka wajib dibunuh.”

Menurut Surya Hadi, pemerintah berkewajiban memberikan sistem pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan, tapi juga mendidik karakter siswa yang toleran. Karenanya, jika didalamnya ada muatan pelajaran yang bertentangan dengan dua amanat tersebut, jelas harus segera dihentikan.

“Sebaiknya konten dari mata pelajaran PAI itu mengarahkan pada sikap terbuka siswa pada persoalan perbedaan beragama, sehingga siswa sejak dini diajak bijak menyikapi setiap perbedaan yang ada. Maka sewajarnya buku itu harus ditarik peredarannya oleh pemerintah,” beber Surya, yang merupakan mahasiswa S2 perbandingan agama itu.

Praktisi pendidikan lainnya Denhas Mubarok menegaskan, radikalisme tak dibenarkan sama sekali di agama manapun terlebih agama Islam. Dalam kasus naskah pelajaran yang mengajarkan radikalisme, ia cenderung menilai pemerintah ceroboh dalam membuatnya.

“Paham berbau radikalisme itu sangat berbahaya, radikalisme tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun. Sangat disayangkan jika pemerintah dalam hal ini kecolongan, khsususnya Direktorat Pendidikan Islam atau Kemendikbud,” ungkapnya.

Ia pun meminta pemerintah secepatnya agar menarik kembali buku tersebut dari peredaran, karena perlu diingat bahwa negara Indonesia adalah negara majemuk yang mengakui perbedaan agama bagi pemeluknya. “Artinya Islam-pun sangat mengajarkan toleran, menghargai perbedaan dan menolak kekerasan atas nama agama,” pungkasnya.

(nos)

Feeds