Tolak Politik Uang, Politisasi SARA dan Berita Hoax di Pilwalkot Sukabumi

SORAK SORAI : Para Paslon Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi meluapkan kegembiraannya usai mendapatkan nomor urut pada pengundian dan penetapan nomor urut.

SORAK SORAI : Para Paslon Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi meluapkan kegembiraannya usai mendapatkan nomor urut pada pengundian dan penetapan nomor urut.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Pasangan calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi serta partai pengusung melakukan deklarasi ‘Tolak dan Lawan Politik Uang, Politisasi SARA dan lawan Berita Hoax’ untuk Pilkada 2018. Hal itu untuk menjadikan pesta demokrasi lima tahunan ini berintegritas dan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

“Iya ini merupakan instruksi dari pusat untuk melakukan deklarasi atau ikrar agar seluruh Paslon atau partai politik pengusung menolak adanya politik uang, politisasi SARA dan melawan berita Hoax,” ujar Ketua Panwaslu Kota Sukabumi, Muhamad Aminudin usai deklarasi di salah satu hotel di Kota Sukabumi, kemarin (14/2).

Dijelaskannya, masyarakat harus bisa melawan politik uang dan menolaknya. Dengan begitu, ketika masyarakat sudah mengerti kampanye tolak politik uang, bisa saja takkan ada paslon atau partai pendukung yang berani melakukan politik uang.

“Saya himbau kepada masyarakat harus berani untuk melawan politik uang. Gunakan hak pilih anda sesuai dengan keinginan, bukan karena uang,” himbaunya.

Tak hanya itu, untuk meraih simpatik masyarakat kata Amin, tim kampanye ataupun partai pengusung harus bisa bersaing secara sehat. Artinya, jangan sampai isu SARA dijadikan alat untuk memenangkan Pilkada ini.

“Tidak boleh mempolitisasi isu SARA, apalagi saat ini banyak virus-virus yang dilempar dari Pilakda DKI lalu ke Kota Sukabumi dan itu jangan dilakukan di Kota Sukabumi,” pinta Amin.

Panwaslu juga menghimbau kepada masyarakat Kota Sukabumi juga para tim kampanye, jangan mudah terprovokasi oleh berita bohong atau Hoax. Masyarakat harus lebih bijak dalam menerima berita yang belum jelas, terlebih untuk menganalisa dulu sedemikan rupa.

“Benar atau tidaknya berita itu harus dikaji dulu, jangan mudah terprovokasi baik itu dilakukan perorangan atau kelompok. Memang saat ini belum terjadi, mudah-mudahan baik itu politisasi SARA dan isu Hoax ini yang digelontorkan masyarakat atau partai pengusung atau pendukung tidak ada,” harapnya.

(radar sukabumi/bal)


loading...

Feeds