Psikolog: Banyak Kaum Gay Memilih Menikah dan Hidup Wajar

Ilustrasi Kaum LGBT./Foto: Istimewa

Ilustrasi Kaum LGBT./Foto: Istimewa

POJOKJABAR.com, KARAWANG– Gay adalah bagian kecil dari LGBT. Demikian disampaikan Nuram Mubina, dosen Psikologi di Universitas Buana Perjuangan di Karawang, Senin (12/02/2018).

Pernyataan ini disampaikan terkait kaum yang mengaku gay dan aktif di sosial media WhatsApp, meskipun Blued belum lama ini sudah ditutup aksesnya.

Jadi, kata Nuram, ada beberapa orang yang menyadari dirinya memiliki ketertarikan dengan sesama jenis.

” Beberapa orang menyadari dirinya memiliki ketertarikan dengan sesama jenis,” katanya, masih menanggapi fenomena tersebut.

Hanya saja, lanjutnya, mereka memilih untuk mengelola diri danmelakukan kontrol diri agar tetap bisa menikah dan berpasangan sebagai heteroseksual.

Saat ditanyakan mengenai pemerintah, ia berpendapat pemerintah harus membuat aturan.

“Pemerintah seharusnya membuat aturan terkait kaum ini,” ungkap perempuan yang menjadi psikolog mitra Polres Karawang ini kepada Pojokjabar.com.

Mengenai kaum LGBT itu sendiri, tambahnya, tidak semua dari mereka itu memiliki keberanian untuk mengungkapkan diri bahwa mereka tertarik dengan sesama jenis mereka (lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan, red).

“Tidak semua dari LGBT itu punya keberanian untuk mengungkapkan diri bahwa mereka tertarik dengan sesama jenis,” terangnya.

Berita terkait: Pasca Blued Bikin Kepala Warga Indonesia Geleng-Geleng, Kaum LGBT Promosikan Grup WhatsApp

Bahkan, tambahnya, banyak juga di antara mereka yang memilih untuk menikah dan hidup dengan wajar.

“Di antara mereka pun banyak yang memilih untuk menikah dan hidup dengan wajar,” terangnya.

Nuram menambahkan, ada banyak yang tertarik dengan sesama jenis menyikapinya dengan mendekat kepada agama. Kemudian karena kedekatannya terhadap kajian keagamaan, maka gaya berpakaiannya pun menjadi seperti menyimbolkan dekat dengan agama.

“Simbol itu seperti jenggot, celana cingkrang, ngaji. Tapi, aslinya mereka berjuang mengatur dan menahan diri untuk tidak mendekat ke sesama jenis yang disukai,” pungkasnya.

(mar/pojokjabar)


loading...

Feeds