Banyak Tanaman Cabai Mati, tapi Petani di Majalengka Untung Besar, Kok Bisa?

Petani Desa Kodasari, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, memanen cabai merah. Mereka menyiasati waktu penjualan agar harga yang ditawarkan tengkulak naik. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

Petani Desa Kodasari, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, memanen cabai merah. Mereka menyiasati waktu penjualan agar harga yang ditawarkan tengkulak naik. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

POJOKJABAR.com, MAJALENGKA – Harga jual cabai di tingkat petani mengalami kenaikan. Meski tidak signifikan, namun hal ini cukup menguntungkan para petani.

Seperti di wilayah Ligung, para petani mendapat keuntungan cukup setelah cabai dihargai cukup bagus.

Harga cabai merah di tingkat petani Rp 8 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit dan cabai hijau Rp 7 ribu per kilogram.

Disinyalir stabilnya harga cabai tersebut karena faktor curah hujan yang berpengaruh terhadap hasil panen.

“Banyak tanaman cabai yang mati akibat curah hujan yang tinggi. Meski begitu kami lega karena harga panen kali ini dihargai cukup bagus antara Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram. Berbeda panen beberapa waktu lalu maksimal hanya Rp 5 ribu per kilogram,” kata Arifin, petani cabai Desa Kodasari Kecamatan Ligung.

Hasil panen kali ini kerap dipesan para tengkulak yang datang langsung ke para petani. Tidak sedikit petani juga harus bersaing terkait harga tersebut.

Misalnya petani yang menjual hasil panen maksimal pukul 10.00, jika lebih dari itu para petani menaikkan harga.

“Kalau lewat dari jam segitu (10.00, red), para petani disini langsung mengirim atau menjual hasil panen ke pasar tradisional. Sehingga banyak bandar yang sudah menunggu di lokasi panen,” tuturnya.

Dia berharap, dengan menyiasati waktu jual tersebut akan menaikkan harga panen. Bahkan dirinya sengaja menjual cabai siang hingga sore hari, agar mendapat harga jual yang tinggi. Sebab biasanya menjelang siang, para tengkulak tidak mendapatkan cabai.

“Seperti hari ini (kemarin, red) pagi hari bandar mematok harga cabai merah di angka Rp6 ribu per kilogram dan cabai hijau Rp 5 ribu per kilogram. Tapi begitu siang, harga cabai merah naik menjadi Rp 8 ribu dan cabai hijau Rp 7 ribu per kilogram,” imbuhnya.

Namun menyiasati waktu penjualan hasil panen juga tidak selamanya membawa keberuntungan. Sebab terkadang justru menjual cabai menjelang siang bisa sebaliknya atau murah. Hal ini jika para tengkulak sudah lebih dulu mendapatkan barang dengan stok yang banyak.

“Terkadang juga seperti itu, kalau semakin siang harga cabai justru turun. Karena harga cabai dalam hitungan menit saja bisa berubah. Terkadang mahal dan kadang murah. Kalau saya tidak mau ambil risiko. Kalau jual cabai lihat-lihat dulu tengkulak sudah punya stok atau belum,” tambah petani lainnya, Rawita di sela panen cabai.

Salah seorang tengkulak, Oji membenarkan harga cabai setiap waktu bisa terus berubah. Hal ini sangat lumrah karena kebutuhan pasar yang sulit diprediksi. Terkadang para bandar menjual cabai tidak tertuju satu pasar.

“Semua pasar induk kita suplai mulai dari pasar di wilayah Cirebon, Jatibarang (Kabupaten Indramayu), Bandung, sampai pasar induk Kramat Jati Jakarta jadi tempat penjualan. Kalau pesanan dari masing-masing pasar banyak tidak mustahil harga cabai naik dalam sesaat,” ucap dia.

(ono/pojokjabar)


loading...

Feeds

Suspect Difteri

5 Warga Bekasi Suspect Difteri

Penderita Difteri di Kota Bekasi bertambah. 5 orang dinyatakan positif suspect penyakit mematikan itu. Kelimanya berada di sejumlah rumah sakit …