Pengakuan Bupati NonAktif Karawang dan Istrinya

Bupati Karawang dan istri dalam persidangan.

Bupati Karawang dan istri dalam persidangan.

POJOKSATU.id, KARAWANG – Bupati Karawang nonaktif Ade Swara berharap ia dan istrinya Nurlatifah dapat dibebaskan dari segala dakwaan dan tuntutan. Ade menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tendensius dan prematur.

Hal itu disampaikannya membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Selasa (7/4).

Ade dituntut 8 tahun penjara dengan denda Rp 400 juta subsider 4 bulan kurungan. Sedangkan istrinya dituntut hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan.

“Sejak awal saya dan istri saya disebut ditangkap dalam OTT (Operasi Tangkap Tangan). Padahal kenyataannya bukan seperti itu. Saya dan istri saya saat itu sedang tidak bersama, istri tarawih di rumah dinas bupati sementara saya sedang tarawih keliling,” katanya.

Hingga kemudian istrinya dibawa KPK, Ade akhirnya atas inisiatif sendiri datang ke KPK untuk menyusul. Namun dirinya diminta menunggu di rest area.

“Tidak ada kucing-kucingan. Yang disampaikan selama ini hanya untuk membangun kesan di masyarakat bahwa kami ini sebagai penjahat,” tuturnya.

Selama proses persidangan, Ade menyatakan ia dan istrinya tidak terbukti melakukan pemerasan terhadap PT Tatar Kertabumi. Justru menurutnya yang terjadi adalah upaya penyuapan terhadap dirinya. “Dalam persidangan saksi-saksi menyatakan bahwa saya tidak pernah meminta uang pada mereka,” katanya.

Dalam dakwaan dan tuntutannya, JPU menyatakan bahwa Ade dan istrinya melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan pemerasan kurang lebih sebesar Rp 27 miliar. Jumlah tersebut merupakan akumulatif aliran dana yang masuk ke rekening.

“Tidak ada satu buktipun yang menguatkan tuduhan Pasal 12 tentang pemerasan. Saya tidak pernah meminta uang atau barang kepada PT Tatar Kertabumi, apalagi sampai mengancam yang merupakan dasar hukum pemerasan,” tukasnya.

Sementara itu, Nurlatifah juga menyampaikan pledoi terpisah, begitu pula dengan penasehat hukumnya. Bahkan Nurlatifah menangis saat membacakan pledoi tersebut. Pengunjung yang memenuhi ruang sidang pun ikut terlarut suasana yang dialami Nurlatifah.

Senada dengan suaminya, Nurlatifah juga membantah semua tudingan JPU termasuk tuntutan yang sudah diberikan.
“Investasi dan tabungan yang terkumpul telah sangat mencukupi kebutuhan saya. Jauh sebelum saya bergabung ke dunia politik. Itulah karenanya, dugaan saya memanfaatkan suami itu mengada-ada dan tanpa dasar yang bisa membuktikannya,” katanya.

Setelah kedua terdakwa, giliran penasehat hukum membacakan pembelaan. Salah seorang kuasa hukum, Wienarno Djati menyatakan kliennya tidak bersalah, sehingga meminta agar majelis hakim membebaskan kedua terdakwa dari dakwaan dan tuntutan jaksa KPK. Majelis hakim setelah mendengar nota pembelaan dari pihak terdakwa, kemudian menunda sidang. Sidang akan dilanjutkan Rabu (15/4) mendatang dengan agenda putusan.

(rk)

Feeds