Dulu Karawang Dapat Rp57 M dari Pertamina, Kini….

Berita Terkini Karawang,

Ilustrasi Pemetaan Pelabuhan Cilamaya

POJOKSATU.id,KARAWANG – Pembatalan Pelabuhan Cilamaya menguak fakta-fakta kalau Pertamina sukses meraup untung besar di tanah Karawang dan sekitarnya. Di antaranya melorotnya bagi hasil Pertamina.

“Saya pernah menjabat ketua DPRD, dulu bagi hasilnya Rp 57 miliar per tahun, sekarang malah tambah melorot Rp 21 miliar. Seharusnya jika Karawang menghasilkan 40 ribu barel per hari, dari ratusan triliun hasil migas, Karawang mendapat sharing Rp 3,5 triliun pertahun. Ini yang menjadi kebohongan Pertamina dan SKK Migas yang tak pernah dibuka,” kata mantan Ketua DPRD Karawang Karda Wiranata,

Karda juga mengungkapkan, di pantai utara (pantura) ada sekitar 170 sumur aktif Pertamina, 120 diantarnya beroperasi di Karawang, sisanya ada di Babelan Bekasi, Indramayu, Subang dan lainnya. Sehingga dari 120 sumur yang ada, Karawang menjadi wilayah penghasil migas terbesar ke-4 di Indonesia.

“Bayangkan jika kemarin Pertamina menyebut dalam sehari menghasilkan 40 ribu barel, dan dalam 1 barel dikurskan seharga Rp 1 juta. Berarti dalam sehari saja Pertamina sudah meraup keuntungan di tanah dan laut Karawang Rp 40 miliar. Dan jika dikalikan sebulan sudah menghasilkan Rp 1,2 triliun, apalagi jika setahun. Ini artinya Karawang sudah sepatutnya memperoleh bagi hasil 2,5 persen saja, atau setahun bisa mendapatkan Rp 3,5 triliun, itu sangat bisa menyejahterakan masyarakat Karawang,” ungkapnya.

Namun persoalannya, kata Karda, bagi hasil untuk Kabupaten Karawang disamakan dengan kabupaten/kota lainnya yang tidak memiliki sumur migas seperti Bogor. Pasalnya hingga saat ini Karawang hanya memperoleh bagi hasil migas sekitar Rp 21 miliar, jauh dari hitungan semestinya.

Hal ini berbanding terbalik dengan Samarinda dan Kalimantan yang kaya dan sejahtera dari hasil migas, sementara Karawang masih saja terbelakang meskipun potensi kekayaan migas melimpah, akibat tertutupnya perusahaan BUMN itu pada masyarakat Karawang.

(raka)

Feeds