Tarif Angkot Mirip Ular Tangga

Ilustrasi angkot di Karawang.

Ilustrasi angkot di Karawang.

POJOKSATU.id, KARAWANG – Kenaikan tarif angkot sebesar Rp 500 sejak hari ini (7/3) pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp 6600 menjadi Rp 7100 ditanggapi pesimis. Masyarakat menilai kenaikan itu sebagai akal-akalan. Buktinya ketika ketika harga BBM turun tarif angkot justru masih tetap bertengger diatas tanpa mau ikut turun.

“Kenaikan itu akal-akalan. Contohnya ketika harga premium Rp 6500 per liter, tarif angkot terdekat Rp 3000, kemudian ketika harga premium melonjak menjadi Rp 8500 per liter, tarif ikut naik menjadi Rp 4000 untuk jarak yang sama. Namun ketika harga premium turun menjadi Rp 6600 per liter, tarif angkot tidak ikut turun. Masyarakat tetap membayar ongkos untuk jarak terdekat Rp 4000, dan kini ketika harga premium naik menjadi Rp 7100 per liter tarif angkot malah naik,” ucap Lenny, warga Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur.

Ia mengaku setiap hari menggunakan jasa angkot jurusan Klari setiap kali berangkat kerja dan naik dari perempatan Johar. Dia mengatakan harga BBM seperti ular tangga naik turun sedang angkot ibarat tangga lurus ke atas, kalau sudah sudah ke atas maka turunnya susah. ”

Ya, diserahkan saja kepada sopir angkotnya. Maunya sopir angkot bagaimana.Misalnya, sekarang kan harga angkot dari perempatan lampu merah Johar – Klari itu Rp 4000, kalau penumpang memberi pecahan Rp 5000 biasanya sopir angkot enggan memberi kembalian dengan alasan tidak ada kembalian, dan penumpang harus rela melepas kembalian Rp 500. Dan biasanya itu akan terjadi berulang-ulang hingga akhirnya tarifnyapun jadi 5000 rupiah,” akuinya.

Hal senada diungkapkan Saipul, menurut dia, BBM dan Angkot ini satu paket. Ibarat permaianan namanya ular tangga. Bedanya kalau dalam permainan ada turun naiknya, kalau tarif angkot naiknya mau giliran turun tidak mau. “Kenaikan tarif angkot itu kan menyesuaikan kenaikan harga BBM.

Mestinya begitu harga BBM turun makan tarif angkotpun ikut turun. Itu baru adil, tapi yang terjadi kan tidak seperti itu. Tarif angkot itu ibarat tangga, namanya tangga kan sifatnya naik melulu, tangga baru dikatakan turun kalau sudah patah,” katanya.

Ketika disinggung perihal naik turunnya tarif angkot, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karawang, H Dede Sudrajat SH, menegaskan jika kelak terjadi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), maka tarif angkot akan kembali disesuaikan.

Selain itu dia juga mengatakan sopir harus mematuhi aturan yang berlaku dan jangan menaikan tarif angkutan kota melebihi ketentuan. “Jika ada sopir angkut yang menaikkan tarif angkutan lebih dari Rp 500 dibandingkan dengan sebelumnya, laporkan kepada Dishubkominfo agar kemudian ditindaklanjuti dengan pemberian surat teguran,” tegas Dede.

Hal itu ditegaskan menyusul restu Plt Bupati Karawang Cellica Nurachadiana untuk menaikan tarif angkutan kota (angkot), pasca kenaikan harga bahan bakar minyak, pekan lalu. Pemkab Karawang menyetujui kenaikan tarif angkot (angkutan kota) sebesar Rp 500 yang mulai resmi berlaku Selasa (7/3). Kenaikan tarif angkot itu dilakukan setelah sebelumnya dilakukan kesepakatan antara Organda dan pengusaha angkot.

Kebijakan kenaikan tarif angkutan kota diambil berdasarkan kesepakatan antara Organda, pelaku usaha angkutan kota dan Pemkab Karawang sebagai mediasi. Hasil kesepakatan itu  kemudian dimintakan persetujuan oleh Plt Bupati Karawang, Celica Nurachadiana.

“Kenaikan tarif ini untuk menyesuaikan kenaikan harga BBM. Tahun ini sudah terjadi dua kali kenaikan tarif angkutan kota. Sebelumnya Rp 200, kini naik untuk kedua kalinya sebesar Rp 500. Total menjadi naik Rp 700. Itu berlaku untuk semua trayek angkutan kota di Kabupaten Karawang,” katanya.

(ops)

Feeds