Kiprah Basarnas: Panen Pujian, Gaji Pas-pasan

11068_9330_OKE-BASARNAS-300x194POJOKSATU – Kinerja cekatan Badan SAR Nasional (Basarnas) dan tim pencari serta evakuasi AirAsia QZ8501 mengundang apresiasi dan pujian. Tidak hanya dari dalam negeri, apresiasi juga meluncur dari dunia internasional. Padahal, kerja maksimal itu dilakukan personel dengan gaji pas-pasan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan, pemerintah mengapresiasi kinerja Basarnas dan seluruh tim yang terlibat dalam pencarian dan evakuasi pesawat AirAsia QZ8501.

’’Kerja keras dan kegigihan seluruh tim sangat kami apresiasi,’’ ujarnya sebagaimana disampaikan Juru Bicara Wakil Presiden Husein Abdullah saat dihubungi tadi malam (3/1).

Menurut Husein, JK terus memantau perkembangan penanganan pesawat AirAsia QZ8501 sejak hari pertama dinyatakan hilang. Apalagi JK sudah diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin dan mengoordinasi seluruh tim pencari. Sebab, saat itu presiden masih berada di Papua.

’’Sejak awal Pak JK minta seluruh tim bekerja cekatan, cermat, dan teliti. Itu bisa dijalankan dengan sangat baik,’’ katanya.

Selain itu, Basarnas terbukti bisa mengharmonikan seluruh unsur yang terlibat. TNI, Polri, tim negara sahabat, relawan, termasuk masyarakat nelayan, hingga pencarian dan evakuasi korban pesawat AirAsia dilakukan relatif cepat dan cermat. ’’Itu menunjukkan Basarnas bisa tampil sebagai ujung tombak yang berperan vital dalam penanganan musibah ini,’’ ucapnya.

Dunia internasional pun mengapresiasi kinerja Basarnas. Pengamat penerbangan internasional Greg Waldron menyebut, pencarian AirAsia hingga ditemukan pada hari ke-3 termasuk yang tercepat dalam kasus musibah penerbangan yang hilang di laut.

’’Tim SAR Indonesia adalah salah satu yang terbaik di Asia,’’ ujarnya saat diwawancara beberapa media internasional.

Sebagai gambaran, dalam kasus jatuhnya pesawat Airbus A330-200 milik Air France di Samudra Atlantik saat perjalanan dari Rio de Janeiro ke Paris pada 1 Juni 2009, lokasi jatuhnya pesawat baru ditemukan pada hari ke-7 oleh tim SAR dan Angkatan Laut dari Prancis dan Amerika Serikat.

Sementara itu, pesawat Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH370 yang hilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada 8 Maret 2014 hingga kini belum ditemukan.

Menurut Waldron, faktor yang juga membuat Basarnas layak manyandang predikat sebagai salah satu tim SAR terbaik Asia adalah penguasaan medan yang sulit. Dengan kondisi geografis Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dan wilayah sangat luas, Basarnas sudah terbiasa bekerja dalam kondisi alam yang menantang. ’’Itu membuat mereka sangat baik dalam penanganan kecelakaan,’’ jelasnya.

Peran Basarnas di Indonesia memang cukup strategis. Sebagai negara rawan bencana, Indonesia membutuhkan Basarnas. Seperti diketahui, ada sejumlah faktor alam yang mengakibatkan negeri ini rentan bencana. Di antaranya, Indonesia berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng tektonik sehingga kerap terjadi gempa.

Selain itu, negara ini berada di kawasan cincin api dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia. Iklim tropis dengan curah hujan tinggi juga menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir dan longsor.

Berdasar data kaleidoskop bencana yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 2014 terjadi 1.525 bencana yang mengakibatkan 566 korban tewas dan 2,66 juta orang mengungsi. Selain itu, dari segi infrastruktur, lebih dari 51 ribu rumah dan ratusan bangunan umum rusak. Kerugian ekonomi juga tidak kalah besar, bahkan mencapai puluhan triliun rupiah.

”Jadi; seperti kebakaran hutan dan lahan itu kerugiannya sampai Rp 20 triliun; banjir Jakarta Rp 5 triliun; banjir di pantura Jawa Rp 6 triliun; banjir bandang di Sulawesi Utara Rp 1,4 triliun; banjir dan longsor di 16 kabupaten-kota di Jawa Tengah Rp 2,1 triliun; dan sebagainya,” papar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Untuk itu, Sutopo memaparkan bahwa peran Basarnas sangat penting dalam penanganan bencana. Keahlian khusus para personel Basarnas terkait upaya pencarian dan penyelamatan korban (search and rescue) sangat dibutuhkan saat terjadi bencana. Selama ini, koordinasi antara BNPB dan Basarnas juga baik.

”Kompetensi Basarnas memang di SAR. Sehingga dalam setiap bencana, Basarnas sebagai leading sector dalam SAR. Saat bencana, semua dikomando BNPB atau BPBD dan Basarnas sebagai pendukungnya. Sebaliknya, saat terjadi kecelakaan pesawat terbang atau kapal, maka Basarnas sebagai pemegang komando, sedangkan TNI, Polri, BNPB, BPBD, dan lainnya sebagai pendukung. Hal itu sudah berjalan dengan baik koordinasinya,” imbuhnya.

Beban besar tersebut dijawab dengan baik oleh Basarnas. Kasubbag Humas dan Media Basarnas Yusuf Latif mengatakan, lembaga yang didirikan pada 1972 itu punya kekuatan yang cukup untuk menanggulangi setiap bencana dan kecelakaan yang ada. Dengan total karyawan 3.400 orang, terdapat lebih dari 1.000 tim penyelamat yang siaga di 34 kantor SAR dan 68 pos SAR.

”Basarnas terdiri dari berbagai tim. Mulai dari tim rescuer,tim medis, tim komunikasi, tim logistik, tim sarana-prasarana, tim operasi, sampai tenaga instruktur. Tapi, fokus kami, setiap perekrutan memang untuk tim rescuer. Untuk bagian tersebut, kami menyerap 15–23 tenaga kerja baru per kantor SAR dalam setiap rekrutmen. Untuk tim lain, kami hanya merekrut satu atau dua,” terangnya.

Dalam upaya penyelamatan, pihaknya sudah menyiapkan enam rescue boat (RB) dan dua unit terbaru RB Katamaran. Selain itu, lembaga tersebut punya delapan helikopter. Namun, bukan fasilitas penyelamatan yang menjadi kebanggaan Basarnas. Melainkan kualitas SDM yang top. Hal tersebut tecermin dari Basarnas Special Group (BSG) yang menjadi ujung tombak dalam setiap upaya penyelamatan.

”BSG adalah pasukan khusus yang kami seleksi dari tim rescuer Basarnas setiap tahunnya. Mereka harus punya kemampuan medis, menyelam, sampai terjun bebas. Bahkan, ada yang punya keahlian menembak. Banyak juga rescuer senior yang tak lolos dalam seleksi ini. Karena yang melakukan tes bukan hanya kami. Ada juga pihak TNI yang ikut dalam seleksi,” terangnya.

Tak perlu muluk-muluk membahas BSG, Yusuf mengungkapkan bahwa setiap pegawai Basarnas memang harus melalui tes ilmu dasar SAR. Salah satu syarat yang perlu dipenuhi adalah bebas fobia. Hal tersebut diujikan dalam pelatihan dasar SAR yang wajib bagi semua CPNS yang diterima.

”Selama satu bulan mereka harus melalui pelatihan yang cukup menantang. Mulai harus berkemah di gunung dengan makanan terbatas sampai turun dari tebing dengan rappelling. Baik admin komputer atau staf keuangan harus lolos ini. Kalau takut atau sakit sehingga gagal, tahun depan harus mengulang,” ungkapnya.

Dia pun menampik beberapa anggapan bahwa pihaknya hanya bekerja saat bencana terjadi. Menurut dia, tim Basarnas harus terus menjaga kondisi melalui rutinitas olahraga dan simulasi di wilayah gunung setiap dua minggu. Basarnas pun terus mengembangkan metode dan sistem penyelamatan yang baru dengan menyerap berbagai referensi.

”Alasan kami disebut tim SAR terbaik se-Asia adalah karena upaya pencarian kami tak pernah lebih dari tiga hari. Dan kami ini bukan penjual peti kemas yang untung kalau ada orang meninggal. Kalau tidak berkembang, kami tak akan bisa menangani hal-hal yang terjadi tiba-tiba,” terangnya. (owi/ken/bil/c11/kim)

Feeds