Diobrak-abrik Petugas Apotek Tutup, Diduga Informasi Bocor, Obat PCC di Depok Nihil

RAZIA OBAT-OBATAN: Petugas sedang menggeledah salah satu apotek di kawasan Jalan KSU Raya, Sukmajaya, Jumat (15/9). Razia yang dilakukan oleh petugas gabungan dari Satuan Narkoba Polresta Depok, BNN, Dinas Kesehatan, dan Satpol PP Kota Depok ini untuk mencegah beredarnya obat-obatan terlarang yang tak memiliki izin. Ahmad Fachry/Radar Depok

RAZIA OBAT-OBATAN: Petugas sedang menggeledah salah satu apotek di kawasan Jalan KSU Raya, Sukmajaya, Jumat (15/9). Razia yang dilakukan oleh petugas gabungan dari Satuan Narkoba Polresta Depok, BNN, Dinas Kesehatan, dan Satpol PP Kota Depok ini untuk mencegah beredarnya obat-obatan terlarang yang tak memiliki izin. Ahmad Fachry/Radar Depok

POJOKJABAR.com, DEPOK – Tim gabungan Polresta Depok, Satpol PP Kota Depok dan BNN Kota Depok obrak-abrik apotek, di Jalan Raya Keadilan dan Jalan Raya KSU, Sukmajaya jumát (15/9/17).

Hasilnya, obat jenis Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC) yang saat ini sedang ramai dibicarakan, nihil ditemukan.

Keladinya, banyak apotek di jalan tersebut tutup, kuat dugaan informasi bocor sebelum pelaksanaan. Kasat Narkoba Polresta Depok, Kompol Malvino Edward mengatakan, razia yang dilakukan aparat gabungan ini merupakan salah satu upaya preventif.

“Jadi tentunya kami ingin melakukan upaya pencegahan. Tidak banyak apotek yang terjaring,” ucap dia kepada Harian Radar Depok (Pojoksatu.id Group), jumát (15/09/2017).

Menurut dia, kegiatan ini merupakan salah satu tindak lanjut dari kejadian banyaknya siswa sekolah di Kendari, yang menjadi korban penggunaan Pil PCC yang di oplos dengan beberapa obat lainnya.

Dari razia yang telah dilakukan, pihaknya belum menemukan Pil PCC yang dicari. Tetapi, ada beberapa bungkus Obat Tramadol yang berhasil dimankan. “Obat ini juga termasuk ke dalam kategori dilarang tanpa resep dokter, kami amankan,” lanjutnya.

Dilokasi, Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna yang turut mengikuti razia menjelaskan, sudah jelas terdapat peraturan yang melarang peredaran obat tersebut. Menurut dia, semua apotek yang belum memiliki izin dan menjual pil PCC akan disanksi berupa penutupan.

“Pengawasan seperti razia semacam ini atau pengawasan dalam bentuk lainnya sudah kami lakukan. Tinggal saat ini bagaimana segala peraturan dan langkah-langkah preventif ini lebih ditingkatkan lagi,” jelas Pradi.

Ditempat yang sama, Kepala BNN Kota Depok AKBP Hesti Cahyasari mengatakan, kasus yang terjadi di Kendari merupakan salah satu bukti masih banyak obat keras yang edarannya dilarang tetapi masih ada di pasaran. “Razia semacam ini tentunya mampu membuat apotek memahami peraturan yang ketat tentang penjualan obat keras,” singkat Hesti.

Untuk Pil PCC menurut dia, peredarannya sudah dilarang sejak 2008. Tetapi dia heran masih ada apotek yang menjual apotek tersebut. “Pil PCC ini sebetulnya sudah lama dilarang Karenanya sanngat membingungkan jika masih ada yang menjual. Untuk di Kota Depok sendiri pil semacam ini belum ditemukan,” tutup dia.

(radar depok/ade)


loading...

Feeds