Fenomena Kemacetan Jalan di Kota Depok, Neraka’ bagi Sopir Angkot, ‘Surga’ bagi Pak Ogah

MENGATUR LALU LINTAS : Tukang parkir atau sering disebut ‘pak ogah’ ikut mengatur kendaraan di Perempatan Mampang, Jalan Raya Sawangan, Kecamatan Pancoranmas. Foto: Ahmad Fachry/Radar Depok

MENGATUR LALU LINTAS : Tukang parkir atau sering disebut ‘pak ogah’ ikut mengatur kendaraan di Perempatan Mampang, Jalan Raya Sawangan, Kecamatan Pancoranmas. Foto: Ahmad Fachry/Radar Depok

POJOKJABAR.com, DEPOK – Kemacetan yang terjadi hampir di seluruh ruas jalan di Kota Depok cukup menyengsarakan bagi pengendara. Khususnya roda empat.

Bukan hanya pengendara mobil pribadi, situasi kemacetan pun dianggap ‘neraka’ bagi seluruh sopir angkutan kota (angkot).

Mansyur, sopir angkot D-03 jurusan Terminal Depok-Parung, merasakan lima tahun ke belakang jalur yang ia lewati saban hari makin macet. Untuk mengejar waktu PP (pergi-pulang) dari Terminal Depok hingga Parung pun menjadi lebih sedikit.

“Dulu bisa dapat empat sampai lima rit. Sekarang jalan makin macet, apalagi tiap pagi dan sore,” kata Mansyur, yang tercatat tinggal di RT01/04 Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan.

Walhasil, pendapatan yang dikumpulkan dalam sehari pun makin berkurang. Penyesuaian tarif Rp7.000 untuk rute terjauh, dirasa masih belum bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, disamping untuk setoran kepada bos angkot per hari Rp100 ribu.

Tak jarang, Mansyur harus menunggak setoran ke juragan angkot, karena hasil penjaringan hari itu kurang untuk mencukupi kebutuhan harian keluarganya. “Mau bagaimana lagi, cari kerjaan lain juga susah, daripada tidak kerja, ya diterusin saja nyopir (jadi sopir angkot, red),” kata Mansyur, yang kala itu sedang istirahat di depan Kantor Pos Depok 1.

Pilihan berbeda diambil Fajar. Pria yang akrab disapa Djarot ini tidak ingin seperti Mansyur yang terus bertahan menjadi sopir angkot.


loading...

Feeds