Damkar Kota Depok: Lima Bulan 147 Kebakaran Terjadi di Kota Depok

WASPADA : Anggota Damkar dan Penyelamatan Kota Depok tengah memadamkan api yang terjadi pada peristiwa kebakaran di Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto:Dicky/Radar Depok

WASPADA : Anggota Damkar dan Penyelamatan Kota Depok tengah memadamkan api yang terjadi pada peristiwa kebakaran di Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto:Dicky/Radar Depok

POJOKJABAR.com, DEPOK – Keganasan si Jago Merah menjadi perhatian Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok. Hingga pertengahan Mei 2017, tercatat sudah terjadi 147 peristiwa kebakaran di Kota Depok. Hal itu diakibatkan konsrleting listrik dan kelalaian manusia.

Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok, Yayan Arianto mengatakan, peristiwa kebakaran merupakan hal yang tidak dapat diduga.

Untuk itu, dia meminta kepada ASN dan masyarakat Kota Depok guna menghindari terjadinya peristiwa kebakaran ditempat tinggal. Maupun lingkungan tempat bekerja. Yayan menghimbau, ASN maupun masyarakat dapat menyediakan alat pemadam api di rumah maupun tempat bekerja.

“Hingga kini tercatat ada 147 peristiwa kebakaran di Kota Depok,” ujar Yayan kepada Radar Depok, pada kegiatan apel pagi dilapangan Balaikota Depok, Jumát (19/5).

Yayan menjelaskan, peristiwa kebakaran terjadi di Kota Depok disebabkan dari konsrleting listrik dan kesalahan manusia. Diantaranya hubungan arus pendek listrik dan keteledoran orang tua yang membiarkan anak bermain dengan korek api. Hal itu sudah terjadi Kota Depok, seperti di wilayah Kelurahan Depok Jaya dan di Palsigunung Kecamatan Cimanggis.

Guna meminimalisir peristiwa kebakaran, sambung Yayan Damkar dan Penyelamatan Kota Depok telah melaksanakan sosialisasi bahaya kebakaran di sekolah dan di tingkat RW. Tidak hanya itu, ada 63 anggota Satlakar yang bersiaga di tiap kelurahan dan rencananya pihaknya akan membangun Pos Damkar yang letaknya jauh dari jangkauan Pos Damkar. Hingga kini, respon time Damkar dan Penyelamatan Kota Depok mencapai 9 menit 22 detik.

“Respon time nasional mencapai 15 menit dan internasional 10 menit, dan kami sudah melampaui itu dan ingin lebih cepat kembali,” terang Yayan.

Yayan menuturkan, dari informasi BMKG titik panas bumi akan terjadi Juni hingga September. Selain itu, Yayan meminta menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri umumnya banyak masyarakat khususnya anak dan remaja memainkan merchon terbang maupun petasan terbang.

Guna menghindari terjadinya kebakaran, dia berharap pengurus lingkungan dapat saling mengingatkan kepada masyarakat guna tidak membakar atau menyalakan merchon tersebut, guna menghindari hal yang tidak diinginkan.

Ketua LPM Kelurahan Rangkapanjaya Baru, Zainal Fatah mengatakan, talah meminta masyarakat dapat mengawasi anak dalam bermain kembang api dan petasan terbang. Hal itu dilakukan guna menghindari bahaya kebaran yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Sebaiknya jangan dilakukan untuk menghindari bahaya kebakaran,” singkat pria yang kerap disapa Jejen.

(radar depok/dic)



loading...

Feeds