Walikota: UN Sistem Komputer Praktis

ilusterasi

ilusterasi

POJOKSATU.id, DEPOK – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan SMK menggunakan sistem komputer di hari pertama berjalan lancar. Hal itu disampaikan Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail ketika meninjau jalannya UN di SMA Negeri 3 Kota Depok, kemarin. Nur menilai, berdasarkan report baik teknisi maupun faktor agenda UN secara keseluruhan tertib dan berjalan baik. UN menggunakan komputer dianggap lebih praktis, karena siswa tidak kesulitan membulatkan hitam jawaban yang dianggap benar, dan hanya cukup menekan mouse.

“Tidak memakan waktu, siswa cukup mengisi data sesuai nama dan biodata lainnya hanya sepuluh menit saja,” kata Nur kepada Radar Depok, kemarin. Selain itu lanjut Nur, kondisi peserta terlihat enjoy dan tenang ketika menjawab soal yang disajikan. Dirinya berharap, hingga berakhirnya UN peserta bisa bekerja tenang guna memberikan hasil optimal. “Semoga sekolah lain yang belum mempunyai fasilitas UN komputer, perlahan bisa menggunakannya tahun depan,” harap Nur.
Senada, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Heri Pansila menambahkan, meski sempat ada komputer yang mati UN di hari pertama berjalan normal dan bisa dikendalikan server. Sebelumnya, setiap sekolah yang mengikuti UN sistem komputer telah menyiapkan genset guna mengantisipasi gangguan listrik. “Semua sekolah menyewa genset. Yang kami khawatirkan bukan pemadaman (listrik, red) dari PLN, tapi padam karena disambar petir,” ucap Heri.

Diketahui, terdapat 16 sekolah melaksanakan UN sistem komputer. Sepuluh diantaranya sekolah swasta dan enam sekolah negeri. Tetapi, jumlah siswa yang mengikuti UN lebih banyak sekolah negeri. Sedangkan total peserta yang mengikuti UN mencapai 17.000 siswa, 3.000 diantaranya menggunakan sistem komputer.

“Ada 32 sekolah yang mengajukan UN sistem komputer, namun yang terpilih hanya 16 sekolah. Alasannya fasilitas yang dimiliki,” terang Heri. UN sistem komputer menurut Heri lebih praktis, dan belum ditemukan kendala serius.
“Yang manual banyak yang stres. Karena lembar jawaban dan soal menjadi satu, harus dipotong memakai penggaris,” kata Heri. Di sisi lain, proses berjalannya UN secara manual lancar. Kendalanya, peserta khawatir ketika membulatkan kunci jawaban kertas menjadi kotor, ditambah lagi kekurangan soal dan harus difoto copy.

(cr2)

Feeds